Friday, November 11, 2005

Hari Terakhir Kaze


Jumat (11/11/05) adalah hari yg melelahkan. Pagi di KIA Garuda kemudian lanjut ke Supra Slipi untuk meneruskan tesis. Saat perjalanan ke Supra sempat kehujanan dan berteduh di halte bis, padahal kampus sudah dekat. Berteduh selama 45 menit bersama beberapa orang yg juga berteduh. Diganggu kecoa2 yg entah datang dari mana. Mungkin karena mulai kebanjiran kecoa2 tsb keluar dr sarang. Asyik juga membunuh kecoa dgn menginjaknya.

Sampai Supra setelah lepas2 jaket & tas, seekor kecoa lari kencang. Sayang ntu kecoa sangat gesit hingga lepas dari injakanku. Rupanya ntu kecoa terbawa olehku dr halte.

Kantor Mbak Lina rupanya kebocoran shg kebanjiran. Tapi akhirnya doi bisa menyusul ke Supra. Hari ini harus mematangkan tesis karena Sabtu harus bimbingan ke Pak Budi di UPH.

Sepulang dari kampus aku sdh ditunggu Herman & teman2nya. Rupanya ada yg minat motor Kaze-ku. Padahal pagi tadi aku sdh menyuruh Herman pasang iklan utk menawarkan Kaze di hari Sabtu. Akhirnya Kaze dibeli oleh Yanto, temannya kakaknya Agus yg rumahnya di kampung belakang seharga 4,4 juta. Dibayar 2 kali, pembayaran 1 sebesar 2,4 juta langsung dibayar malam itu juga. Sisanya 2 juta dibayar tgl 5 Desember. Ya sudah tidak apa-apa sama tetangga. Tidak lupa memberi komisi ke Herman sebesar 400 ribu.

Selamat tinggal Kaze-ku, terima kasih telah menemaniku selama ini. Semoga dapat bermanfaat bagi pemilik barumu.

Thursday, November 10, 2005

Service Pertama MX


Setelah beberapa jam di KIA Garuda, aku cabut mencari bengkel Yamaha terdekat. Maksudnya mau service pertama 400-500 km. Maklum, km sudah menunjukkan 445 km. Mau balik ke Yamaha Bekasi kejauhan, lagi pula sore hari harus mengumpulkan draft tesis ke Pak Budi di Sahid dan Pak Dossugi di Atmajaya. Sedangkan kalau ditunda besok pagi takutnya km sdh lebih dari 500 dan tidak bisa klaim service gratis. Akhirnya lihat daftar bengkel di bagian belakang buku service. Yg terdekat dgn rute adalah di Jl. Abdul Muis.

Setelah dicari ternyata bengkelnya kecil banget. Cuma 1 ruko, tapi ada 6 line service. Ya sudah, dari pada nyari bengkel lain. Lagi pula ternyata dapat informasi kalau bengkel Yamaha lain amat-sangat penuh. Sedangkan di sini hanya perlu antri 3 motor lagi. Sayangnya hanya ada 1 montir saja. Ah, ditekatin aja.

Sempet jengkel karena disela 2 motor lain yg belakangan datang. Aku omelin aja si montir. Akhirnya setelah sebel menunggu, MX-ku dikerjakan juga. Si montir kepayahan karena harus bongkar fairing MX yg punya banyak baut. Nyopotnya juga ribet, harus bongkar jok.

Rada lama Si MX diservice. Padahal Mbak Lina sudah menunggu di Sindoro. Maklum, Pak Budi cuma kasih waktu sampai jam 17. Akhirnya Si MX selesai jam 16:40. Lima menit ngebut ke Sindoro dan sempat deh ngejar waktu ke Pak Budi dan Pak Dossugi. Habis itu ke Supra Slipi ketemu dengan Bu Yanki dan Neti. Seperti biasa, Bu Yanki bertindak sebagai penasehat spiritual, eh... penasehat tesis. Terima kasih Bu Yanki. Terima kasih Mbak Lina atas makan malamnya yg khusus dibawa dari Sindoro.

Wednesday, November 09, 2005

Tips Berkendara Aman dan Nyaman


Berikut adalah tips berkendara aman dan nyaman yg diadaptasi dari Tabloid Motor Plus no. 350.

1) Persiapan pengendara: pemanasan & peregangan tubuh, pergunakan perlengkapan/ perlindungan tubuh seperti helm, jaket, sepatu, dll.
2) Persiapkan motor: cek tekanan ban, rem, kaca spion, dan lampu-lampu sebelum berangkat.
3) Postur berkendara: mata melihat jauh ke depan; pundak santai; siku menekuk dgn santai; posisi tangan harus mudah mengoperasikan handle rem, kopling dan saklar-saklar; pinggul diposisikan agar mudah mengoperasikan setang dan kemudi; kaki diletakkan tegak pada foot-step.
4) Pengereman: lakukan bersamaan depan-belakang; sebisa mungkin tidak melakukan panic breaking.
5) Gunakan selalu jalur kiri.
6) Untuk pindah jalur: gunakan tanda/ lampu sein; perhatikan spion utk memastikan aman.
7) Sebelum belok: gunakan jalur yg semestinya sebelum berbelok kiri atau kanan.
8) Kurangi kecepatan saat menghadapi rintangan: seperti batu, kerikil, tanah, becek, lumpur, pasir, dll.
9) Tidak dibenarkan berkendara dgn 1 tangan. Apalagi lepas tangan semuanya!
10) Tidak dibenarkan berkendara dalam pengaruh minuman keras dan/atau obat-obatan.
11) Waspada: terutama malam hari.
12) Patuhi rambu-rambu lalu lintas.

Tambahan:
13) Kendalikan emosi: tidak mudah terpancing pengendara lain yg ngebut atau ugal-ugalan.
14) Kecepatan mengikuti situasi dan kondisi jalan dan kepadatan. Tapi walau sepi, kecepatan maksimal motor di jalan raya adalah 60 km/jam.
15) Bawa peralatan darurat: kunci-kunci, busi, kabel dan kalau perlu ban dalam cadangan.
16) Bawa uang darurat: sediakan pos anggaran untuk keadaan darurat, misalnya untuk tambal ban, mbengkel saat tiba-tiba mogok, dll.
17) Bawa STNK dan SIM. Jangan sampai lupa.
18) Catat nomer-nomer darurat: misalnya 112, 119 dan juga kerabat atau teman yg dapat dihubungi segera ketika ada masalah darurat.
19) Kondisi tubuh harus fit: tidak sedang sakit atau menderita penyakit yg dapat kambuh sewaktu-waktu (mis: ayan, dll).
20) Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah perjalanan.

Tuesday, November 08, 2005

Tim Tesis BSC


Inilah wajah-wajah Tim Tesis BSC. Walau pun kecapaian, tetapi masih dapat menghiaskan senyum di wajah. Di tengah kesibukan mengejar deadline yg mungkin tidak terkejar, kami masih menyisakan harapan untuk dapat segera menyelesaikan tesis dan dapat wisuda bulan Desember.

Hari-hari dipenuhi dengan perdebatan yg kadang menguras tenaga dan mental. Tapi semuanya paham bahwa perdebatan itu wajar dan penting mengingat kami memiliki dasar pemikiran yang berbeda. Dan itulah suka duka teamwork. Sangat sulit menyatukan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Tapi keuntungannya adalah semakin kayanya hasil yg didapat. Puzzle yg berserakan itu mulai dapat disatukan untuk membentuk gambaran yg nyata.

Selalu semangat Tim Tesis BSC. Semoga sukses. Semoga TUHAN selalu menyertai kalian. Dan semoga cita2 dan harapan dapat terwujud. Amin.

Friday, November 04, 2005

Dijual Kawasaki Kaze 96

Menjual sesuatu lewat blog? Mengapa tidak? Setidaknya patut dicoba. Siapa tahu ada yg sempat mampir dan membacanya. Kemudian tertarik dan mencoba menawar. Atau mungkin ada yg mencari barang tersebut lewat Search Engine dan kemudian menemukan iklan tersebut. Ketemu deh pencariannya.

Nah, aku juga ingin menjual Kawasaki Kaze-ku yg hampir 4 tahun ini setia menemaniku kemana saja. Kaze buatan tahun 1996 ini kubeli dari temanku yg bernama Wahyu pertengahan tahun 2002. Waktu itu kami tukar tambah. Aku menjual mobil Daihatsu Charade Classy-ku kepadanya dan dia membelinya dengan Kaze plus uang. Hm... kayak jaman Flinstone ya? Masih sistem barter.

Jangan khawatir, mesin terawat karena aku rajin menservis Kazeku. Biasanya 2 bulan sekali, atau paling telat 3 bulan sekali. Servisnya lengkap, selain ganti oli juga tune-up. Oli paling sering pakai Top One. Oli Top One memang oke kok. Tarikan jadi ringan dan bensin jadi irit. Pernah pakai Pertamina tapi tarikan jadi loyo.

Tahun 2005 ini sudah balik nama dari nama pemilik pertamanya. Tapi bukan atas namaku, tapi atas nama Kholis, Oomnya Wahyu. Kebetulan doi yg selalu mengurus surat-menyurat, termasuk MX baruku juga diurusnya. Jadi kalau urusan perpanjang STNK Kaze, aman deh.

Kondisi Kaze-ku masih lumayan. Diajak ngebut juga masih oke. Ban depan-belakang juga baru diganti tahun ini. Kembangannya masih bagus. Cuma mika lampu sein kiri belakang pecah. Aku belum sempat nyari, selain karena sibuk juga tdk tahu harus nyari dimana. Ini pecah karena waktu itu diparkir Herman dan ada mobil parkir yg nyerempet motor sebelah. Akhirnya deretan para motor ambruk termasuk motorku. Tebeng depan kanan pecah. Sudah diganti sama si empunya mobil tapi ternyata yg palsu. Sedangkan Herman tdk tahu kalau lampu sein belakang kiri juga pecah. Akhirnya tdk ikut diganti. Sebenarnya mikanya murah kok. Harganya masih di bawah 10 ribu. Info tsb aku dapat dari majalah Moto+ yg pernah memuat harga2 mika lampu.

Nah, pembaca kalau tertarik dengan Kaze-ku, silakan hubungi: Dewo, HP: 0813-17966108, Flexi: 021-70828491 atau telp rumah: (021) 889-65147. Rumahku di Bekasi, kalau serius hubungi aku dulu ya, baru kuberi alamat lengkapku. Harganya berapa? Berapa ya? Jadi bingung mau nawarin berapa. Yg penting laku dulu deh. Habis rumah sudah penuh. Sekarang kukandangkan di rumah dan setiap 2 hari sekali kupanasin mesinnya. Mau dikoleksi takut tdk terurus dan malah rusak nganggur. Jadi kujual saja. Siapa tahu dapat bermanfaat bagi orang lain. Ya nggak?

Thursday, November 03, 2005

Arti Sebuah Helm


Helm adalah salah satu piranti pendukung keselamatan bagi pengendara sepeda motor (juga sepeda onthel yg dikendarai di jalan raya) seperti diriku. Buat apa motor yg keren dan kencang tapi tanpa didukung piranti pendukung keselamatan yang memadai? Sekali jatuh si pengendara langsung almarhum.

Menyadari pentingnya helm, sudah sejak hari Minggu aku keliling cari helm yang baik (maksudnya yg keren dan bagus gitu). Sayangnya helm yg keren harganya mahal. Dan lagi cari helm ukuran L itu sulit sekali. Akhirnya Selasa (02/11/05) kuputuskan membeli helm full-face yg bisa diangkat rahangnya menjadi half-face. Mereknya Yoshi ukurannya M. Lho kok ukurannya M? Ternyata cukup kok. Entar kalau sudah sering dipakai pasti akan kempes busanya. Setelah tawar-menawar akhirnya disepakati harganya 200ribu. Ah, uang sebesar itu sangat kecil artinya dibanding keselamatan kita. Ya nggak?

Sayangnya aku sering melihat banyak pengendara atau pembonceng yg kurang menyadari arti penting helm. Setelah mereka jatuh barulah mereka menyadari arti pentingnya helm. Walau pun jarak tempuhnya dekat, selalulah pakai helm. Demikian juga dengan pembonceng ojek, pakailah helm yg sdh disediakan oleh Kang Ojek. Kalau helmnya bau, tataki kepala dengan topi atau sapu tangan terlebih dahulu.

Memakai & memilih helm juga tidak boleh sembarangan. Helm harus kuat dan tahan benturan di bagian luarnya. Sedangkan di bagian dalamnya harus lembut dan mampu meredam benturan. Bentuknya juga harus mampu melindungi kepala, tidak seperti helm "cathok" yg hanya melindungi langit-langit kepala. Dan ketika jatuh sudah pecah. Lebih baik jika memakai helm full-face. Mana ada sih pembalap yg memakai helm "cathok"? Jangan lupa ikat pengikat helm dengan benar. Soalnya sering kali helm terbang ketika ngebut jika tidak diikat dgn benar.

Lebih keren lagi jika pakai helm yg keren, baik bentuknya mau pun warnanya. Soal warna sebenarnya sih lebih cenderung ke selera. Contohnya helmku yg berwarna hitam dgn stiker putih. Aku memang menyukai warna yg kalem. Lihat aja fotonya. Keren kan? Perasaan lebih keren helmnya dari pada orangnya.

Tuesday, November 01, 2005

100 km Pertama MX-ku

Hari Senin telah berlalu. Tak terasa angka km di panel telah menunjukkan angka 95 km. Wah, rupanya dalam 2 hari saja tak terasa telah menjelajah jalan yg cukup panjang. Hari Selasa (01/11/05) ini kulalui bersama MX dengan rute: pagi ke KIA Garuda untuk migrasi data dan dilanjut ke RM Sindoro untuk membahas tesis. Sudah tidak pakai jaim lagi. Sudah mulai ngebut. Tapi kutahan supaya tidak lebih dari 80 km/jam. Tidak lupa menyempatkan diri beli kunci cakram seharga 25 ribu.

Acara di Sindoro berjalan dengan lancar. Bab 1, 2 dan 3 sudah final. Tinggal bab 4 dan 5 yang menunggu data dari Mbak Lina. Bab 6 kesimpulan menanti bab 4 & 5 selesai. Pulang dengan santai. Sampai rumah km MX sudah menunjukkan angka 148 km. Sempet kaget juga. Rupanya jam terbangku bersama MX dalam sehari lumayan jauh, padahal aku rasa belum sejauh kalau aku harus ke KIA Sunter atau ke Supra Slipi. Pasti akan lebih jauh lagi ya? Alhasil jatah service 400-500 km bisa dilakukan sebelum 1 bulan.

Yang asyik, bensin masih tersisa di atas garis merah. Padahal pertama kali mengisi bensin hari Senin minggu lalu (24/10/05) dengan modal 15 ribu sdh penuh. Kalau kira-kira sekarang di tangki masih tersisa 1/2 liter, maka paling tidak sudah habis 2,5 liter untuk menempuh 148 km. Jadi kira-kira konsumsinya 1:59,2. Atau pukul rata 1 liter untuk 60 km. Irit apa nggak hayo? Ya jelas irit duong.

Besok pagi mau isi bensin lagi. Belum tahu harus ngisi berapa ribu, maklum, kalau kebanyakan bisa luber. Habis itu klinong-klinong lagi...

Monday, October 31, 2005

Hari Kerja Pertama MX-ku

Senin (31/10/05) pagi aku berangkat ke KIA Garuda dengan MX baruku. Sepanjang perjalanan JAIM banget. Nggak ngebut sih. Cuma belagak cuek. Habis banyak yg ngeliat dengan penuh selidik. Ada juga motor yg ngejar terus mbarengin. Terus aja aku jaim. Pokoknya nafsu ngebut ditahan. Maximal 60 km/jam. Maklum, masih in-reyen.

Sampai KIA Garuda pamer ke Sisca. Sorenya dilanjut ke Sindoro, acaranya bahas & buat tesis dengan Mbak Lina. Tidak lupa nyempatin pamer ke Mbak Lina. Kebetulan doi senang warna silver, seleranya serasi dengan MX-ku. Sayang acara bahas tesis berlangsung panas dan deadlock. Yang seharusnya ada hasil malah macet. Akhirnya kami pulang dengan hasil yg minim.

Saat pulang sempet panas dgn motor-motor lain yg pada ngebut. Udah gitu sengaja manas-manasin MX-ku. Yg jelas akhirnya MX sempat kupacu sampai 80 km/jam. Untung tersadar sehingga tdk mbejek gas lebih dalam lagi.

Sunday, October 30, 2005

Perjalanan Pertama MX di Hari Minggu

Minggu pagi (30/10/05) yang cerah. Aku beli mur-baut untuk plat MX-ku, masih ditemani Kaze. Habis itu dengan semangat memasang plat. Kebetulan Herman sdh bangun, jadi kusuruh cuci Kaze di tempat pencucian motor di depan gang. Biar Kaze bersih sebelum dikandangkan.

Habis acara pasang-memasang plat selesai, aku keliling Bekasi sambil ambil uang di Mandiri untuk gaji+THR Herman. Acara dilanjut mencari helm. Sayangnya helm merek XXX full-face yg bisa diangkat rahangnya hanya tersedia ukuran M. Tidak ada yg ukuran L atau XL. Alhasil kepala tdk bisa masuk. Jangan-jangan kepalaku kebesaran ya? Makanya jangan suka memuji aku, soalnya kepalaku sudah besar.

Sorenya ke Gereja St. Mikael Kranji. Tentu doanya kushuk dong... Waktu pulang dipanggil sekelompok orang: "Em-ex... em-ex..." Tapi aku cuek aja. Habis namaku kan bukan MX.

Saturday, October 29, 2005

Akhirnya STNK MX-ku Jadi

Sabtu malam (29/10/05) sepulang dari Kampus Supra sehabis bimbingan tesis dgn Pak Budi & Bu Yanki, aku dapat missed call dari Om Kholis. Doi adalah Om-nya Wahyu ex rekan kerja di Jalok. Doi yg biasa ngurusin STNK motorku. Kebetulan doi kupercaya ngurus urusan surat-menyurat MX-ku. Setelah kutelpon balik ternyata STNK MX-ku sudah jadi. Langsung aja aku tancap ke rumah kakaknya dimana dia menunggu.

Setelah acara basa-basi dan serah terima selesai, doi pamer Supra X 125R barunya. Rupanya STNK-nya juga baru selesai di hari yang sama. Jadi kami sama-sama nganyari. Beberapa saat aku meneliti X125R-nya. Sayang banderolnya mahal sekali, hampir 14,5 jt. Selisihnya hampir 2 jt dengan X125 standar. Dan terpaut 700 ribu dengan MX. Jelas milih MX kemana-mana. Lagi pula MX itu tipe yg exclusive, tidak ada peng-kasta-an seperti X125 (ada kasta X125STD, X125 dgn cakram, dan tipe racing X125R). Jadi, bagi yg punya X125STD bisa saja upgrade ke X125R. Tapi hal ini tidak bisa dilakukan dgn MX. Soalnya hanya ada 1 tipe MX. Mungkin lain halnya jika tahun depan Yamaha mengeluarkan versi MX yg lain, misalnya tipe racing atau CW (cast wheel). Maklum, MX ini masih pake velg jari dan kopling sentrifugal.

Alhasil pulang dengan wajah cerah dan dengan nafsu ingin segera jalan-jalan dengan MX-ku. Terima kasih Tuhan.

Ban Bocor

Sudah 2 kali dalam seminggu ini ban belakang motor bocor. Anehnya kejadiannya sama. Pagi-pagi waktu mau bepergian ban belakang sudah kempes. Untung dekat rumah ada tambal ban. Jadi tidak perlu capai ndorong motor.

Saat nambal yang kedua di tukang tambal yang sama aku mengeluh. "Pak, saya sudah kedua kalinya nambal ban dalam seminggu ini. Mungkin ada yang nyebar paku ya?" Wajar saja aku protes, soalnya di kedua kejadian tersebut pakunya dari jenis yang sama. Paku dengan panjang 2 cm dan berwarna hitam.

Sang bapak hanya merespon, "Iya, mungkin karena banyak bongkaran." Maksudnya bongkaran atau pembangunan rumah. Tapi sebenarnya aku tidak melewati bongkaran atau pembangunan. Yang jelas kejadiannya pasti malam hari saat aku pulang ke rumah. Dan karena pakunya panjang, pasti saat sudah dekat rumah. Kalau kejadiannya masih jauh pasti sudah ndorong dari jauh dong.

Sebenarnya yang kukeluhkan bukan nilai rupiah yang harus dikeluarkan. Soalnya nambal ban memang tidak mahal, cuma Rp. 5.000. Tapi yg membuat jengkel adalah karena buang-buang waktu dan tenaga (ndorong). Seharusnya sudah berangkat tapi harus nambal dulu. Juga karena sebenarnya aku belum lama ganti ban dalam & luar. Sayang sekarang sudah tambalan.

Tapi syukurlah belum pakai Yamaha MX baruku. Masih pakai Kaze. Semoga Senin depan STNK sudah jadi sehingga aku bisa pakai motor baruku.

Tuesday, October 25, 2005

Mengapa Memilih Yamaha MX

Sudah sejak sebulan yang lalu aku mengumpulkan data motor-motor kandidat. Ada Suzuki Satria FU150, Yamaha Jupiter MX135LC, Kawasaki Kaze ZX130, Honda Supra X 125R dan Suzuki Shogun 125 SP. Mengapa sih memilih motor dengan kapasitas besar? Memang kriteria dasarnya adalah: 1) Kapasitas mesin minimal 125 cc; 2) Model harus sporty.

Setelah melihat spesifikasi dan model, akhirnya pilihan dipersempit menjadi Satria F150 dan Jupiter MX135LC. Tapi selama awal bulan Oktober kemarin Jupiter MX belum ada di pasaran sehingga tdk bisa lihat secara nyata. Padahal Jupiter MX sdh di-launch akhir September kemarin. Dan sudah banyak diulas di media cetak. Apalagi contoh-contoh modifikasinya dari Thailand sudah banyak menghiasi media otomotif. Akhirnya waktu itu cuma bisa ngiler dan masih terpaku pada Satria F150.

Akhirnya aku memutuskan membeli MX dari pada F150. Berikut adalah pertimbangannya:
1) Harganya masih masuk akal (13,8 jt). Kalau F150 sih terlalu mahal (Rp 16,5 jt). Walau pun setelah dihitung-hitung, MX ditambah velg racing dan kopling manual harganya akan sama dengan Satria.

2) Teknologinya baru dan Yamaha mengklaim banyak menggunakan teknologi balap, terutama dari moge R1. Teknologinya yg keren: DiAsil, Liquid Cooled (dengan radiator), dan terutama kapasitas mesinnya yg 135 cc (memang sih masih lebih kecil daripada Satria yg 150 cc). Tambahan: kompresinya sampai 10,9 tetapi masih bisa menggunakan premium. Suspensi belakangnya tunggal (monoshock/ monocross).

3) Bentuknya keren habis. Fairingnya seperti moge (motor gede) balap. Kesannya aerodinamis sekali. Dan cukup tinggi sehingga sesuai dengan postur tubuhku.

4) Produk ini masih baru. Jadi masih terasa eksklusif karena masih belum banyak yg pakai. Lagi pula modelnya menyiratkan model masa kini.

5) Lebih irit biaya operasionalnya dari pada Satria. Terutama di bahan bakar. Kalau pakai Satria harus menggunakan Pertamax. Sedangkan MX cukup menggunakan premium. Jelas lebih irit dong, walau pun top speed atau pun tarikannya "mungkin" kalah dari pada Satria. Lagi pula suku cadang Yamaha terkenal murah.

Itulah sedikit pertimbanganku sehingga akhirnya memilih MX. Yang pasti terima kasih pada Tuhan sehingga aku bisa membeli MX ini. Sekarang tinggal ngurus BBN.

Hari Pertama Yamaha MX-ku

Hari pertama Yamaha MX-ku. Malamnya sempat bikin heboh Herman dan teman-temannya. Mereka melihat dengan takjub. Black yang suka sok tahu itu bilang kalau tampilannya serem. Mungkin maksudnya sangar kali ya?

Dari segi tampilan memang Yamaha MX tergolong bebek yang sportif banget. Fairingnya seperti layaknya moge (motor gede) balap.

Sayangnya aku tidak dapat warna biru. Padahal kalau dapat warna biru, bisa ganti motif seperti motif teamnya Valentino Rossi, yaitu Yamaha Goulioses (eh... nulisnya bener nggak ya?)

Sepanjang malam sudah ingin mbesut motor baruku. Sayang belum balik nama sehingga belum punya BPKB+STNK. Kepikir juga sih mau pakai plat nomer Kaze. Tapi kalau ada apa-apa repot juga. Akhirnya menahan nafsu untuk tidak segera memakainya.

Monday, October 24, 2005

Yamaha MX Baruku

Tgl 24 Oktober 2005 ini motor Yamaha MX135LC-ku datang. Kemarin aku menyambangi 2 dealer Yamaha. Yang pertama di dekat pasar Sumber Artha, tapi MX incaran yang tersedia hanya warna oranye. Ih... kayak Pak Pos aja. Terus ke dealer Bekasi. Dan syukurlah masih ada 1 sisa warna perak.

Sempat tanya ke teman Neti yg juga bisnis motor, siapa tahu dapat diskon. Ternyata diskonnya cuma 100rb. Akhirnya diputuskan beli saja di dealer Bekasi ini. Tapi belinya kosongan, tanpa BBN (Bea Balik Nama), karena kalau diuruskan dealer BPKB+ STNK baru bisa jadi pertengahan November. Wuih... lama amir. Harga kosongan 12,3jt. Jika beli OTR harganya 13,8jt. Jadi spare untuk BBN kurang lebih 1,5jt. Semoga nggak sampai 1,5jt biayanya.

Paginya aku ambil kekurangan uang di Bank Mandiri. Habis itu ndekem di rumah menunggu kedatangan motor. Dealer berjanji jam 15 diantar dan sebelumnya akan menghubungiku. Tapi sampai jam 15:30 kok belum dihubungi dan belum diantar. Akhirnya kutelpon dealer. Ternyata aku memberi nomer HP-ku salah. Seharusnya 108 tapi yg kuberikan 109. Maklum nomer rumahku 109 dan akhiran nomer HP-ku 108. Jadi sering keliru.

Akhirnya jam 16:00 motorku datang ditambah bonus helm standar (tanpa kaca) dan jaket. Tidak lupa peralatan (kunci2) secukupnya. Setelah urusan administrasi & keuangan selesai, aku langsung bawa beli bensin. Kebetulan POM Bensin dekat, jadi tidak khawatir kena tilang Pak Polisi. Di sepanjang perjalanan banyak dilirik pengendara motor yang lain. Sempet dikuntit motor lain (jangan2 akunya yg GR ya?). Selama mengisi juga banyak dilihat orang lain. Mungkin mereka baru melihat Yamaha MX secara real, kan selama ini hanya melihat iklannya Komeng terbang bareng MX.

MX cukup tinggi. Handlingnya sangat ringan (atau karena sebelumnya pakai Kaze yg termasuk berat ya?). Pertama kali mengendara rada kagok terutama karena ringannya handling. Juga posisi tuas persneling yang beda dengan Kaze. Tetapi setelah beberapa meter jalan jadi terbiasa. Rem oke. Tarikan ringan banget. Sayangnya tidak berani ngebut karena selain masih baru juga belum terbiasa.

Kesimpulan sementara: mesin dan handling oke. Bentuk atraktif dan tinggi, sesuai dengan posturku yang 176cm. Yg jelas, first impression is OX banget, gitu loh.