Tuesday, October 25, 2005

Mengapa Memilih Yamaha MX

Sudah sejak sebulan yang lalu aku mengumpulkan data motor-motor kandidat. Ada Suzuki Satria FU150, Yamaha Jupiter MX135LC, Kawasaki Kaze ZX130, Honda Supra X 125R dan Suzuki Shogun 125 SP. Mengapa sih memilih motor dengan kapasitas besar? Memang kriteria dasarnya adalah: 1) Kapasitas mesin minimal 125 cc; 2) Model harus sporty.

Setelah melihat spesifikasi dan model, akhirnya pilihan dipersempit menjadi Satria F150 dan Jupiter MX135LC. Tapi selama awal bulan Oktober kemarin Jupiter MX belum ada di pasaran sehingga tdk bisa lihat secara nyata. Padahal Jupiter MX sdh di-launch akhir September kemarin. Dan sudah banyak diulas di media cetak. Apalagi contoh-contoh modifikasinya dari Thailand sudah banyak menghiasi media otomotif. Akhirnya waktu itu cuma bisa ngiler dan masih terpaku pada Satria F150.

Akhirnya aku memutuskan membeli MX dari pada F150. Berikut adalah pertimbangannya:
1) Harganya masih masuk akal (13,8 jt). Kalau F150 sih terlalu mahal (Rp 16,5 jt). Walau pun setelah dihitung-hitung, MX ditambah velg racing dan kopling manual harganya akan sama dengan Satria.

2) Teknologinya baru dan Yamaha mengklaim banyak menggunakan teknologi balap, terutama dari moge R1. Teknologinya yg keren: DiAsil, Liquid Cooled (dengan radiator), dan terutama kapasitas mesinnya yg 135 cc (memang sih masih lebih kecil daripada Satria yg 150 cc). Tambahan: kompresinya sampai 10,9 tetapi masih bisa menggunakan premium. Suspensi belakangnya tunggal (monoshock/ monocross).

3) Bentuknya keren habis. Fairingnya seperti moge (motor gede) balap. Kesannya aerodinamis sekali. Dan cukup tinggi sehingga sesuai dengan postur tubuhku.

4) Produk ini masih baru. Jadi masih terasa eksklusif karena masih belum banyak yg pakai. Lagi pula modelnya menyiratkan model masa kini.

5) Lebih irit biaya operasionalnya dari pada Satria. Terutama di bahan bakar. Kalau pakai Satria harus menggunakan Pertamax. Sedangkan MX cukup menggunakan premium. Jelas lebih irit dong, walau pun top speed atau pun tarikannya "mungkin" kalah dari pada Satria. Lagi pula suku cadang Yamaha terkenal murah.

Itulah sedikit pertimbanganku sehingga akhirnya memilih MX. Yang pasti terima kasih pada Tuhan sehingga aku bisa membeli MX ini. Sekarang tinggal ngurus BBN.

Hari Pertama Yamaha MX-ku

Hari pertama Yamaha MX-ku. Malamnya sempat bikin heboh Herman dan teman-temannya. Mereka melihat dengan takjub. Black yang suka sok tahu itu bilang kalau tampilannya serem. Mungkin maksudnya sangar kali ya?

Dari segi tampilan memang Yamaha MX tergolong bebek yang sportif banget. Fairingnya seperti layaknya moge (motor gede) balap.

Sayangnya aku tidak dapat warna biru. Padahal kalau dapat warna biru, bisa ganti motif seperti motif teamnya Valentino Rossi, yaitu Yamaha Goulioses (eh... nulisnya bener nggak ya?)

Sepanjang malam sudah ingin mbesut motor baruku. Sayang belum balik nama sehingga belum punya BPKB+STNK. Kepikir juga sih mau pakai plat nomer Kaze. Tapi kalau ada apa-apa repot juga. Akhirnya menahan nafsu untuk tidak segera memakainya.

Monday, October 24, 2005

Yamaha MX Baruku

Tgl 24 Oktober 2005 ini motor Yamaha MX135LC-ku datang. Kemarin aku menyambangi 2 dealer Yamaha. Yang pertama di dekat pasar Sumber Artha, tapi MX incaran yang tersedia hanya warna oranye. Ih... kayak Pak Pos aja. Terus ke dealer Bekasi. Dan syukurlah masih ada 1 sisa warna perak.

Sempat tanya ke teman Neti yg juga bisnis motor, siapa tahu dapat diskon. Ternyata diskonnya cuma 100rb. Akhirnya diputuskan beli saja di dealer Bekasi ini. Tapi belinya kosongan, tanpa BBN (Bea Balik Nama), karena kalau diuruskan dealer BPKB+ STNK baru bisa jadi pertengahan November. Wuih... lama amir. Harga kosongan 12,3jt. Jika beli OTR harganya 13,8jt. Jadi spare untuk BBN kurang lebih 1,5jt. Semoga nggak sampai 1,5jt biayanya.

Paginya aku ambil kekurangan uang di Bank Mandiri. Habis itu ndekem di rumah menunggu kedatangan motor. Dealer berjanji jam 15 diantar dan sebelumnya akan menghubungiku. Tapi sampai jam 15:30 kok belum dihubungi dan belum diantar. Akhirnya kutelpon dealer. Ternyata aku memberi nomer HP-ku salah. Seharusnya 108 tapi yg kuberikan 109. Maklum nomer rumahku 109 dan akhiran nomer HP-ku 108. Jadi sering keliru.

Akhirnya jam 16:00 motorku datang ditambah bonus helm standar (tanpa kaca) dan jaket. Tidak lupa peralatan (kunci2) secukupnya. Setelah urusan administrasi & keuangan selesai, aku langsung bawa beli bensin. Kebetulan POM Bensin dekat, jadi tidak khawatir kena tilang Pak Polisi. Di sepanjang perjalanan banyak dilirik pengendara motor yang lain. Sempet dikuntit motor lain (jangan2 akunya yg GR ya?). Selama mengisi juga banyak dilihat orang lain. Mungkin mereka baru melihat Yamaha MX secara real, kan selama ini hanya melihat iklannya Komeng terbang bareng MX.

MX cukup tinggi. Handlingnya sangat ringan (atau karena sebelumnya pakai Kaze yg termasuk berat ya?). Pertama kali mengendara rada kagok terutama karena ringannya handling. Juga posisi tuas persneling yang beda dengan Kaze. Tetapi setelah beberapa meter jalan jadi terbiasa. Rem oke. Tarikan ringan banget. Sayangnya tidak berani ngebut karena selain masih baru juga belum terbiasa.

Kesimpulan sementara: mesin dan handling oke. Bentuk atraktif dan tinggi, sesuai dengan posturku yang 176cm. Yg jelas, first impression is OX banget, gitu loh.

Tuesday, October 18, 2005

Pajak Bandwidth?

Penetrasi internet di Indonesia sangat kurang dan sangat lambat. Seperti kita tahu, internet dapat menjadi sumber belajar ilmu pengetahuan karena sangat banyak resources yang tersedia di internet. Menyadari manfaat internet ini, WSIS menargetkan penetrasi internet sampai 50% di tahun 2015 (Baca: Indonesia Matangkan Empat Isu ke WSIS II, Menristek: Jangan Gagal Penuhi Target WSIS). Muluk? Seharusnya tidak.

Tetapi yang mencengangkan adalah akan diberlakukannya Pajak Bandwidth (baca: Risau Pajak Bandwidth:
RUU Pajak Diharap Mampir ke Ditjen Postel
). Tentu saja banyak para pakar TIK yang protes (Baca: Faisal Basri: Pajak Bandwidth Kebijakan Dungu). Jika pajak ini jadi diberlakukan, maka banyak pemain internet (ISP) akan menaikkan tarifnya. Dan akhirnya berimbas ke akses internet yang makin mahal. Padahal seperti kita tahu, sekarang pun internet masih dianggap barang mewah dan teknologi tinggi bagi kebanyakan orang di Indonesia.

Semoga kelak ada solusi lebih baik bagi akses internet yang murah di Indonesia dan target Indonesia WSIS dapat tercapai. Amin.

Sunday, October 09, 2005

Seminggu Setelah BBM Naik

Tgl 1 Oktober 2005 pemerintah mengumumkan kenaikan BBM. Jumlahnya cukup mengagetkan, yg tadinya diperkirakan oleh para analis kenaikan hanya 30-40% ternyata kenaikan hampir 100%. Demo marak di mana-mana, bahkan di beberapa daerah terjadi kerusuhan, seperti di Makasar. Tapi pemerintah tdk bergeming. Yah, karena sdh terlanjur naik, malu kan kalo hrs menelan ludah.

Harga2 sdh bergerak naik, inflasi mencapai 12%. Harga transportasi umum naik sampai 40%. Dunia industri yg selama ini menggantungkan operasionalnya pd solar sudah kembang kempis. Lucunya tdk ada inisiatif nyata dr pemerintah utk membantu rakyatnya dlm melalui krisis ini. Himbauan utk "berhemat" terdengar sumbang bagi kebanyakan telinga. Baca tulisanku sebelumnya: Himbauan Wapres Agar Rakyat BerhematHimbauan Wapres Agar Rakyat Berhemat.

Bahan bakar alteratif solar, yaitu Pertamina DEX msh terlalu mahal, masih di atas 6.000. Jadi bukan alternatif BBM murah, tapi utk opsi BBM yg ramah lingkungan. Sdh jadi kenyataan bhw kehidupan kita sgt tergantung dgn BBM fosil. Bahkan lucunya sebagian listrik dr PLN dibangkitkan menggunakan BBM.

Padahal dulu pernah ada BBG (bhn bakar gas) yg banyak digunakan Taxi. Sayang sekarang hampir punah. Kurang sosialisasi? Atau kebijakan pemerintah kurang dpt memaksakan penggunaan BBG?

Dari krisis ini, kita dpt melihat bbrp borok, yaitu:
1) Dana subsidi dialihkan ke rakyat miskin. Tampak bahwa sebelumnya pemerintah kurang memperhatikan rakyat miskin. Lagi pula dana ini dlm bentuk uang 100ribu/bulan. Sampai kapan? Beberapa pengamat menyarankan bantuan tdk dlm bentuk uang, tapi dlm bentuk modal keterampilan & pengetahuan.

2) Tdk adanya konsep yg jelas kemana negara ini mau dibawa. Pemerintah terlalu sibuk mengatasi masalah2 kecil jangka pendek & melupakan rencana jangka panjang. Termasuk strategi & kebijakan yg lemah. Mungkin perlu REPELITA spt jaman ORBA. Jadi rakyat tahu arah langkahnya (=negara).

3) Setiap kebijakan selalu hrs ada yg dikorbankan. Kali ini korbannya terlalu banyak. Pengusaha banyak yg mulai merasakan kesulitan, terutama transportasi. Sdgkan rakyat yg dpt hibah secara mental akan menjadi lemah & cenderung menjadi tergantung pd sedekah.

Secara pribadi, saya ada beberapa saran:
1) Libatkan lebih banyak cendekiawan & juga akademisi utk turut memikirkan krisis ini. Kalo perlu bentuk lembaga utk menangani krisis. Rangkul LSM yg terkait.

2) Edukasi masyarakat untuk mengadopsi solusi alternatif. Ini hrs dilakukan secara komprehensif & terus menerus. Buat daftar solusi alternatif & dipublikasi secara meluas. Misalnya pengganti minyak tanah, yaitu LPG atau kayu bakar. Atau tip 'n trik berhemat. Syukur2 bisa dijadikan buku panduan.

3) Galakkan R&D utk teknologi alternatif. Walau pun butuh dana besar & waktu lama, tapi ini menjadikan kita lebih tahan krisis dan tdk tergantung teknologi & energi konvensional.

Ini merupakan krisis nasional. Kebijakan ini "mungkin" tdk salah, tapi harus ada solusi terbaik untuk mengatasi dampaknya. Semuanya harus turut memikirkan & berbagi ilmu & pengetahuan shg kita dpt bersama mentas dr krisis. Semoga TUHAN berkenan membantu kita. Amin.

Sunday, October 02, 2005

Ada Apa dgn Axel?

"Ada Apa dgn Axel?", adalah pertanyaan yg selalu melintas di kepala sejak Axel didiagnosa bermasalah di usianya yg hampir 2 tahun. Sebenarnya aku sdh mulai menyadari saat usianya 1,5 tahun, tapi pemeriksaan secara klinis secara intensif baru dilakukan setelah Axel hampir menginjak 2 tahun. Sejak saat itu beberapa terapi dilakukan sampai akhirnya menetap di Talitakum sampai di usianya yg lewat 5 thn ini.

"Mengapa bisa terjadi?" Pertanyaan ini muncul ketika para ahli mendiagnosa Axel menderita ADHD (attention defisit hyper disorder), yaitu salah satu spektrum Autis. Segala literatur dilahap. Segala tempat dijelajah dan beberapa ahli/spesialis dihubungi. Banyak spekulasi yg diperkirakan sebagai penyebab autis, tapi aku pasrah bahwa ini adalah karunia dari Tuhan. Sekarang aku tidak mempermasalahkan apa penyebabnya lagi, yang terpenting adalah bagaimana menyembuhkan Axel dan bagaimana menjamin masa depan Axel.

"Mengapa harus Axel?" Sering kali aku hampir putus asa ketika berusaha memahami arti karunia ini. Tuhan pasti memiliki rencana yang indah yg saat ini kami belum tahu artinya. Yang bisa kami lakukan hanya terus dan terus berusaha mencari cara untuk kesembuhan Axel.

"Sampai kapan?" Segala daya upaya telah dilakukan. Dan semua biaya diprioritaskan untuk kesehatan dan kesembuhan Axel. Tapi sampai kapan? Bukannya aku tidak mau terbebani Axel, tapi aku berpikir, ada masanya aku tidak dapat lagi menopang kehidupan Axel. Misalnya saat aku telah tiada. Sejak didiagnosa autis, aku telah berjanji akan menopang hidup Axel selamanya apa pun keadaannya di masa depan. Dan akhirnya aku malah terbelengu dengan pikiran tentang panjang hidupku. Apakah aku sanggup menolong Axel sampai akhir hayatnya?

Aku keliru! Bukan aku yang menopangnya, tapi Tuhan! Aku hanya bisa berusaha dan terus berusaha, tapi Tuhan yang memutuskan. Aku keliru dengan mengandalkan kemampuanku saja. Padahal tangan-tangan Surgawi selalu menolong kami. Akhirnya aku menyerahkan segalanya pada Tuhan termasuk masa depan Axel.

Dan terbukti aku keliru menganggap Axel tidak memiliki masa depan dan selalu berusaha untuk menopang Axel selama hidupnya. Padahal ternyata autis bisa sembuh! Minimal bisa diperbaiki. Informasi ini baru aku peroleh setelah membaca berita tentang konferensi tahunan DAN (defeat autism NOW!). Informasi yg selama ini aku peroleh, yaitu bahwa autis sudah harga mati ternyata salah. Jadi kini masih ada harapan untuk (semua) penderita autis, walau pun ternyata terapi dan obat-obatannya belum tersedia di Indonesia. Tapi dalam waktu dekat pasti akan masuk Indonesia.

Sekali lagi aku menyadari bahwa semuanya itu indah ketika menyadari bahwa kita tidak mampu dan segalanya murni bantuan Tuhan. Biarlah kita berusaha dan terus berusaha dengan tekun dan tidak mengenal lelah, tapi pahamilah bahwa Tuhan-lah yang menentukannya. Biarkanlah dan rasakanlah bantuan dan karunia-NYA dengan penuh syukur. Jadikan pengalaman dan peristiwa ini sebagai ujian bagi kita. Jawaban dan bantuan bagi kita tidak selalu seperti yang kita inginkan, tetapi seperti yang Tuhan tetapkan. Semuanya butuh waktu, kesabaran dan ketekunan. Berlian telah ditempa oleh waktu dan tekanan bumi yg besar sehingga dapat menjadi sangat indah. Demikian juga manusia.

Terima kasih Tuhan karena telah membuka mata dan hati kami sehingga dapat mensyukuri berkat, rahmat dan rejeki yang telah KAU berikan kepada kami. Maafkan kami jika selama ini tidak menyadari bahwa Engkau sungguh mengasihi kami sampai Engkau rela mengutus Puteramu Yesus Kristus sebagai korban silih bagi kami. Kini giliran kami meneruskan Jalan Salib kehidupan kami yg ternyata sangat ringan ini.

NB: bagi yang ingin mengetahu lebih lanjut tentang Autisme, silakan merujuk situs www.autisme.or.id.

Cuti Seminggu

Melanjutkan posting sblmnya (Ke Semarang Lagi). Sesuai rencana kami (Aku, Sisi, Axel, Ibu, Yu, & P. Dedi supir) berangkat dari Pemalang tgl 28/09 Rabu. Sampai Aston jam 3an. Sempet bingung soal arah, tapi setelah tanya akhirnya sampai. Ternyata dekat sekali dgn MMC. Kami menginap di Apartemen Aston. Kami sdh booking Superior yg memiliki 2 kamar tidur. Rupanya oke juga, fasilitas lengkap seperti layaknya hotel bintang 4 (atau bahkan 5?). Ada ruang tamu/keluarga, ruang makan dan dapur yg menyatu. Kemudian 2 kamar tidur, yg 1 lebih kecil. Dan tentu tdk lupa kamar mandi. Selain ada dapur dgn perlengkapannya, ternyata ada ruang cuci kecil lengkap dengan mesin cuci otomatis. Alhasil selama 2 hari menginap sempat pula mencuci. Ngirit, dari pada laundry bisa mahal bgt.

Seperti biasa, perlu perjuangan extra untuk membawa Axel ke lingkungan baru. Syukurlah setelah masuk apartemen dia bisa mulai beradaptasi. Tidak lupa semua perkakas diutak-atik olehnya. Syukurlah apartemen tdk terlalu luas shg Axel tdk terlalu berlarian. Semua bekal mainan baru khusus untuknya telah habis dimainkan. Gambar2 mobil untuk digunting juga telah diguntingnya. Guntingan2 itu kemudian ditempel ke tembok. Untunglah lem & double-tape tdk dikeluarkan. Bisa2 tempelan jadi permanen melekat di tembok. Tdk lupa semua saklar lampu, dispenser & kompor gas diobrak-abrik olehnya sampai akhirnya dia tertidur setelah dipaksa tidur.

Paginya kami ke MMC jam 8:45. Janji dgn Dr Melly Budhiman jam 9:30. Alhasil kami agak bersusah payah menjaga Axel yg hyper. Tepat jam 9:30 Axel masuk ruang periksa. Di dalam Axel dites & disimpulkan bhw Axel bisa menyelesaikan tes tapi dgn banyak manipulasi. Kemudian juga diambil darahnya utk dites laboratorium. Sampel darah akan dikirim ke Amerika untuk mengetahui racun di tubuh Axel. Hasil baru diperoleh sebulan berikutnya. Kami sekaligus menjadwal pemeriksaan berikutnya, yaitu pd tgl 16/01/06 hari Senin.

Setelah periksa kami ke Warung Buncit utk beli obat di Yayasan Autisme. Kebetulan hari itu (tgl 29/09) sdg marak2nya demo menolak kenaikan BBM shg Jkt macet. Kemacetan ditambah antrean kendaraan yg akan membeli BBM yg memang langka krn pasokannya sengaja dikurangi Pertamina. Cari makan jadi susah. Rencana nengok rumah di Kranji batal krn takut terjebak macet, dan yg terpenting adlh hemat BBM.

Menginap semalam lagi di Aston & paginya (30/09) kami check-out & pulang ke Semarang. Seperti perjalanan berangkat, perjalanan pulang juga diwarnai banyak kemacetan. Mampir di Tegal untuk makan siang. Aku & Sisi mencari bakso utk Axel. Sayangnya dia tdk mau makan baksonya, sedangkan snack jagung & kacang atom dilahapnya sampai habis. Ya sdh, tdk apa2, yg penting ada makanan masuk. Aku malah siang itu tdk sempat makan. Laper bgt sih, akhirnya snack kuembat utk ganjel perut.

Sampai Pemalang terjadi estafet supir krn P. Dedi sdh sampe kotanya. Sbg catatan, walau pun srg terjadi kemacetan, kami masih bisa membeli solar di bbrp SPBU. Memang ada beberapa SPBU yg penuh antrean atau pun BBM habis. Puji Tuhan kami tdk perlu antre panjang atau pun kehabisan.

Sampe Smrg pk 19:30an. Semua capek sampai tdk peduli dgn pengumuman kenaikan BBM pk 00:30. Terima kasih Tuhan karena telah mendampingi kami sehingga acara dpt berjalan dgn lancar. Dan semoga dpt memberikan hasil yg positif bagi Axel. Amin.

Monday, September 26, 2005

Ke Semarang Lagi

Hari Minggu 25 Sept '05 aku kembali lagi ke Smrg, kampung halamanku yg ke-2 setelah Tegal. Kali ini tdk sekedar berlibur melepas kangen pd keluargaku, tapi membawa misi khusus, yaitu mengantar Axel berobat. Rencana Axel berobat tgl 29 Sept di MMC diperiksa oleh Dr Melly Budiman. Kemudian dibuatlah rencana yg matang. Tgl 27 (Selasa) berangkat dr Smrg jam 13. Kami berencana mampir & bermalam di Pemalang di rumah Tante Sus sekalian pinjam sopirnya. Besok paginya langsung berangkat ke Jkt & kami akan bermalam di Apartemen Aston yg telah kami book jauh hari sebelumnya. Baru paginya jam 9an periksain Axel.

Setelah periksa acaranya bebas. Yg jelas tgl 1 Okt kami harus pulang ke Smrg lagi. Praktis aku harus cuti 1 minggu. Sempat diprotes client sih, tapi acara ini tdk bisa diganggu gugat, soalnya sdh booking Dr Melly 6 bulan sebelumnya. Selain itu PDC Cikarang sdh menungguku utk menuntaskan migrasi data & masuk ke tahap Beta. Jadi Sabtu pulang Smrg & Minggu balik lagi ke Jkt. Senin ke PDC kalau bisa menumpang Mbak Pipit. Semoga bisa.

Sudah 2 hari ini menikmati Smrg, tapi sayangnya kelangkaan BBM juga terjadi di Smrg. Tadi melihat antrean panjang pembeli BBM di 3 lokasi POM. Kemarin melihat di TV kalau di Smrg terjadi kelangkaan minyak tanah. Apalagi alasan Pertamina ya? Padahal Pertamina menjamin ketersediaan stok BBM menjelang kenaikan harga di bulan Okt nanti.

Akhirnya aku hanya bisa berdoa, Semoga besok perjalanan & acara kami dpt berjalan dengan lancar & terutama dpt memberikan manfaat & kemajuan bagi Axel. Amin.

Saturday, September 24, 2005

Tukang Ketoprak

Ucup, begitu kami biasa memanggilnya. Ucup adalah seorang penjual ketoprak yang setiap malam mangkal di depan rumahku. Jam kerjanya mulai jam 6 hingga dini hari. Anehnya, dia hanya membekali diri dengan kaos sederhana dan sendal jepit untuk berjualan semalaman. Jadi kepikir, pernah masuk angin nggak ya?

Suatu malam sambil membeli ketopraknya kami mengobrol. Terbukalah lembaran masa lalunya. Sejak kecil Ucup sudah dididik untuk mandiri. Dari mengurus diri sendiri sampai memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Walau pun masih SD, Ucup telah bisa membeli baju sendiri dari hasil jerih payahnya. Kedua orang tuanya adalah seorang yang sederhana dengan hidup yang pas-pasan dan tinggal di sebuah desa kecil di Cirebon. Terbayang bahwa kehidupan keluarganya sangat sederhana di bawah garis kemiskinan.

Sayangnya Ucup sekolah hanya sampai SD. Dan sekarang dia menekuni bisnis ketopraknya. Setiap malam cukuplah omzetnya dengan harga jual 3 ribu rupiah. Dan sudah beberapa tahun ini harganya tetap 3 ribu. Padahal harga BBM dan inflasi sudah beberapa kali dilaluinya. Ketika kutanya, "Harga tidak naik, Cup?". Dengan lugu dia menjawab, "Tidak Mas, harga bahan bakunya tidak naik." Yap, jawaban yang menyentuh hati. Terbayang semua bahan baku Ketopraknya dan juga minyak tanahnya. Kebanyakan memang tidak naik. Tapi tidak tahu apa jadinya jika minyak tanah juga naik.

Baginya semuanya itu sudah cukup. Dengan biaya hidupnya yang sederhana, dia tidak perlu menaikkan harga ketopraknya. Dia tidak memerlukan apa-apa selain yang diperlukannya saja. Hebatnya lagi, dia mengaku tidak pernah sakit. Sejak dia kecil sampai sekarang tidak pernah sakit. Luar biasa.

Aku mengaguminya sebagai orang yang lugu, hidup sederhana sesuai dengan kebutuhannya saja, jujur dan juga tidak berpikir macam-macam. Dengan hidupnya yang sederhana, dia mampu menabung uang dalam jumlah yang banyak yang dia pergunakan untuk pulang ke Cirebon setiap bulan dan memberikan uangnya pada kedua orang tuanya. Benar-benar manusia alami dan juga tidak tersentuh teknologi dan gaya hidup materialistis. Dan yang terpenting adalah jiwanya yang manusiawi dan nrimo (menerima hidup apa adanya), selalu hidup untuk melayani walau pun upah yang dia terima tidak seberapa. Sungguh sulit menemukan penjual makanan seperti dia.

Setelah itu jadi menengok diri sendiri. Bisakah aku hidup seperti dia? Bisakah hidup sesuai dengan kebutuhan saja? Bisakah hidup dengan cara yang sederhana? Bisakah berpikir sederhana, tidak materialistis, tidak berambisi, tidak terobsesi, dan tidak-tidak yang lain, yang kebanyakan dipikirkan oleh orang-orang Metropolis?

Suatu jawaban yg sulit. Yang jelas, aku telah bertemu dengan orang-orang seperti Ucup, dan kebanyakan mereka telah berusia lanjut sekali. Aku yakin orang-orang seperti Ucup sangat diberkati Tuhan. Berkat itu biasanya usia yang lanjut dan ketahanan fisik yang luar biasa.

Friday, September 16, 2005

Bagaimanakah Kabarmu?

Bertahun-tahun tdk berjumpa. Tak kudengar sedikit pun kabar darimu. Beberapa kali kamu hadir dlm mimpiku. Selalu menggelitik pikiranku untuk bertanya, "Bagaimanakah kabarmu? Dimanakah kini engkau berada?"

Hidup ini telah lama berubah sejak terakhir kita berjumpa. Teknologi telah sedemikian canggih sehingga kita tdk merasakan lagi batasan waktu & ruang. Kini kita dpt berkomunikasi dari mana saja dan kapan saja. Dan momen2 indah dpt kita abadikan dlm media yg lebih abadi dlm bentuk digital yg tdk lekang dimakan waktu dan dpt dengan mudah kita lihat kapan saja kita kehendaki.

Tetapi engkau, sahabatku, engkau bagian dari masa laluku yg belum terjamah oleh canggihnya teknologi. Dan kita terserakkan ke tempat & waktu yg berbeda. Tetapi, memori indah itu telah terekam dlm otakku. Di dalam mimpi aku memutar kembali kenangan masa-masa kita bersama. Di saat kita menorehkan tinta warna-warni dlm lembaran kehidupan kita.

Betapa arti persahabatan itu sangat berarti dalam hidup kita. Dan saat ini kita cukup beruntung karena teknologi dpt menghubungkan kita dari mana saja dan kapan saja. Jadikan itu sarana terbaik bagi kita untuk sekedar bertanya, "Bagaimanakah kabarmu hari ini, Sahabat?"

[Untuk semua sahabatku semasa aku TK, SD, SMP Tegal & Pemalang, SMA, Battery Rock Band, UNDIP, The Squad Rock Band, UNIKA, UGM, RS Mitra Bekasi & Jatinegara, ACT, Jalok, Supra, Sisfo Kampus, Netmaster, Gtlo yg begitu memberi warna dlm hidupku. Dan teristimewa bagi sahabat terbaikku, sahabat karib di masa kini, LTA, kamulah sahabatku yg tersisa kini.]

Wednesday, September 14, 2005

Himbauan Wapres Agar Rakyat Berhemat

Seruan Wapres berkenaan dgn rencana kenaikan BBM: Wapres: BBM Naik Awal Puasa Agar Rakyat Berhemat. Saya agak sedih ketika rakyat ini harus berhemat lagi. Beberapa waktu yg lalu kita diajak berhemat listrik. Sekarang BBM. Waktunya juga tepat: saat bulan puasa bulan yg tepat untuk berhemat apa pun juga.

Tetapi saya melihatnya agak janggal. Rakyat dihimbau hemat, tapi apakah para petinggi negeri ini juga dpt berhemat? Kami rakyat kecil ini sdh biasa berhemat. Kalau pun kami sedikit boros, itu wajar karena yg kami boroskan adalah uang kami sendiri yg kami peroleh dgn jerih payah kami membanting tulang setiap hari.

Lalu bgmn dgn rakyat yg hidup di bawah garis kemiskinan? Mereka yg tidak memiliki apa2 lagi. Kemewahan tdk pernah mereka kenyam. Apa lagi yg dpt dihemat?

Bagaimana dengan pemborosan yg dilakukan oleh petinggi (dan juga bawahannya yg mendukung) yg korup? Yg rumahnya gemerlap bak istana yg konsumsi listriknya mampu menerangi seluruh rumah di perkampungan kumuh? Yg setiap hari bermobil dgn tdk peduli berapa konsumsi BBM-nya? Maklum, mobil mewah dgn cc besar. Ironisnya semua biaya2 operasional para petinggi itu dibayar dgn uang rakyat.

Okelah rakyat berhemat karena memang tdk ada lagi yg dpt kami boroskan. Tapi himbauan ini jangan sekedar lips service. Mulailah dari yg menghimbau dan juga seluruh jajarannya. Berantas semua pemborosan & potensi pemborosan yg langsung maupun tdk langsung. Jadilah teladan bagi kami, rakyat Indonesia. Jika Anda tdk tahu cara berhemat rakyat, atau ingin tahu rasanya hidup hemat yg lebih hemat lagi, silakan tanyakan pada rakyat Anda.

Saturday, September 10, 2005

Siapakah saya?

Hari berganti hari. Jarum jam serasa berputar sangat kencang. Di tengah tuntutan hidup, waktu ini seolah tdk cukup. "24 jam sehari? Seandainya sehari bisa lebih dari 24 jam," pikirku sambil membayangkan pekerjaan yg telah lama menunggu utk kuselesaikan.

Seperti kebanyakan pekerja, aku sering kali tenggelam di timbunan pekerjaan. Waktu habis hanya untuk bekerja. Dan akhirnya terjebak dalam rutinitas tak terputus. Tetapi apa yg kudapat? Apakah itu sepadan dengan apa yg kudapat? Cukupkah gaji yg kuterima? Setimpalkah dgn pengorbanan waktu hidupku demi lembaran2 uang yg akan segera habis entah untuk apa?

Keputusan harus diambil! Aku tdk ingin terjebak dlm lingkaran tak terputus ini. Aku ingin bekerja saat aku ingin. Aku ingin memanfaatkan waktuku tdk hanya untuk bekerja. Waktuku adalah hidupku. Aku ingin mengisinya dengan sesuatu yg indah, hebat, dan bermanfaat tidak hanya bagiku dan keluargaku, tetapi juga bagi banyak orang. Aku ingin menikmati waktuku dan tdk ingin hidup terkekang oleh waktu dan tertimbun tumpukan pekerjaan.

Waktu terus berlalu. Hampir 3 tahun menapak waktu. Tak kurasa aku telah memulai perubahan. Kini tersadar bahwa visi & misi 3 tahun lalu itu merupakan perjuangan besar. Rentetan peristiwa mewarnai jalan panjang perjuangan ini. Dan aku sadar bahwa kini waktu berpihak padaku. Waktu berputar seiring dengan langkah kakiku. Akulah yg menentukan isi dari waktuku. Inilah kemenanganku yg pertama: aku berhasil menguasai waktuku.

Tetapi perjuangan berikutnya telah menanti! Yaitu perjuangan untuk mengisi waktuku sehingga dpt bermanfaat & menjadi berkat, tidak hanya bagi keluarga, tapi juga bagi sesama. Di sinilah perjuangan besar telah kumasuki demi menemukan jati diriku. Siapakah aku? Akulah yg menentukan! Apa yg kuperbuat dan apa yg kuhasilkan dalam waktuku akan membentuk aku.

Dalam doa, aku terus memohon pada TUHAN agar merestui langkahku dan memberkati waktuku. Amin.

Saturday, September 03, 2005

Dua Setengah Tahun Sisfo Kampus

Tidak terasa Sisfo Kampus telah berusia lebih dari 2,5 tahun. Dimulai dari usaha pribadi, kini telah menjadi perusahaan resmi, walau pun masih berskala kecil. Tapi dilihat dari pertumbuhan & perkembangan, kami dpt merasakan kebanggaan. Terutama karena kami merintisnya benar2 dari awal dgn hanya bermodalkan nekat, tekat & mimpi.

Lewat 2 tahun ini pula kami mulai berbenah manajemen. Dimulai dari sistem keuangan yg lebih tertib & profesional & sistem kerja yg lebih terarah. Tapi sayangnya kami masih sibuk dgn kegiatan2 di luar perusahaan, misalnya kuliah, mengajar, proyek kolaborasi dan juga acara2 keluarga. Semuanya membuat kami kurang fokus & tdk 100% mencurahkan waktu kerja ke Sisfo Kampus. Walau pun demikian kami dpt berbangga karena kami tidak pernah kekurangan. Tahun ini telah 3 client tergaet, terdiri dari 2 Total Solution & 1 Partial Solution.

Terima kasih pada TUHAN yg telah membantu, membimbing & merestui usaha kami. Juga bagi segenap keluarga & sahabat2 kami yg mendukung, merestui & terus mendoakan kami. Sampai sekarang kami masih terus berjuang untuk membuktikan pilihan hidup kami ini layak untuk terus diperjuangkan.

Friday, September 02, 2005

Wisata Alami?

Hari Minggu 28 Agst 2005 (telat posting blog nih) aku diajak Mbak Pipit sekeluarga jalan2. Dalam perjalanan akhirnya diputuskan pergi ke Ancol melihat Sea World. Hari Minggu ini Ancol amat-sangat padat. Begitu pula di Sea World. Masuk terowongan air hawanya panas sekali. Jadi keringetan deh.

Jadi berusaha menyelami para pengunjung yg berjubel. Setelah 5 (atau 6) hari bekerja, hari Minggu inilah kesempatan baik bagi mereka untuk refreshing dan berkumpul bersama keluarga. Memang sih banyak sekali tempat hiburan modern seperti bioskop, cafe, diskotik, pementasan musik, dll). Tapi sampai kini wisata ke alam tetap sangat diminati. Puji Tuhan Indonesia memiliki alam yg indah & kaya flora & fauna. Dan syukurlah di beberapa tempat di metropolitan ini memiliki tempat wisata alam (flora & fauna). Walau pun sayangnya sdh tdk 100% alami lagi.

Oh ya, wisata alam sekarang banyak dikemas dalam kegiatan2 yg menarik, misalnya Outbond, Arung Jeram, Panjat Tebing, Camping, Perang-perangan, dll. Asyik juga ketika dipadu dgn olah raga, misalnya surfing, diving, rally, balap, Para Glider, Terjun Payung, dll.

Betapa ramainya bisnis pariwisata ini. Tdk hanya untuk wisatawan domestik, tapi telah mampu mendatangkan wisatawan mancanegara. Dan bisnis ini masih sangat potensial untuk mendapatkan devisa dari luar negeri. Mampukah kita menarik kembali wisman (Wisatawan Manca Negara) yg dulu sempat menaikkan pamor pariwisata Indonesia? Jadi ingat Gorontalo, negeri yg memiliki banyak keindahan alam. Perlu usaha yg keras & terpadu untuk memperkenalkan Gtlo sampai ke Manca Negara sehingga Indonesia tdk hanya dikenal Bali-nya.