PC Magazine dlm artikelnya yg berjudul The Ten Biggest Problems in Computing and How We'll Solve Them menyebutkan 10 masalah terbesar komputasi, yaitu:
1) Terlalu mudah di-hack, terinfeksi & terkena spam.
2) Software-nya memiliki banyak bug.
3) Pencurian identitas yg semakin marak.
4) Sgt tdk mungkin menemukan sesuatu.
5) Tdk cukupnya harddisk utk menampung file download.
6) Daya tahan baterai notebook yg terlalu singkat.
7) Surfing web terlalu lambat .
8) PC tdk cukup cepat.
9) Koneksi wireless sering blank & tdk dpt diandalkan.
10) Tenggelam dlm ruwetnya kabel.
Anda mengalami masalah komputasi ini? Anda tdk sendiri!
An ordinary person's writings, photos, videos, to snapshot his extraordinary life
Tuesday, August 09, 2005
Monday, August 08, 2005
Kenangan Lucu Saat Mengajar (1)
Pekerjaan sebagai dosen sering dianggap sebagai pekerjaan yang santai dan menyenangkan oleh sebagian orang. Tapi aku pernah merasakan stres-nya mengajar. Yaitu saat tahun ajaran 20041. Saat itu aku harus mengajar di 2 perguruan tinggi dengan total 4 kelas yg dilakukan dalam 1 hari saja. Betapa nggak mabok, satu hari mengajar 4 kelas, dari pagi jam 8 sampai malam jam 21.
Menyiasati stress, seringkali dalam mengajar aku melemparkan lelucon ke para mahasiswa. Contohnya di sebuah kelas di perguruan tinggi yang terkenal sebagai sekolahnya bankir. Perguruan tinggi ini mengharuskan para dosen menggunakan pakaian formal lengkap dengan dasi. Tidak luput kemudian para mahasiswa juga harus menggunakan dasi.
Setelah aku lihat penampilan para mahasiswa culun yg baru lulus SMA kemarin itu menggunakan dasi kecil yg panjang, tak urung aku ketawa geli. Di mataku, mereka itu nggak pantes banget. Selain nggak match dgn warna pakaian & celana, gerak-geriknya juga kikuk. Jangankan mereka, aku saja merasa canggung jika harus menggunakan dasi dan selama mengajar aku tidak pernah pakai dasi.
Kontan saja mahasiswa bertanya mengapa aku ketawa. Langsung saja aku jawab: "Sekarang para mahasiswa harus pakai rantai ya?" sambil menarik dasinya. Kontan saja mereka protes, "Ini dasi, Pak! Bukan rantai! Emang saya doggy?"
Menyiasati stress, seringkali dalam mengajar aku melemparkan lelucon ke para mahasiswa. Contohnya di sebuah kelas di perguruan tinggi yang terkenal sebagai sekolahnya bankir. Perguruan tinggi ini mengharuskan para dosen menggunakan pakaian formal lengkap dengan dasi. Tidak luput kemudian para mahasiswa juga harus menggunakan dasi.
Setelah aku lihat penampilan para mahasiswa culun yg baru lulus SMA kemarin itu menggunakan dasi kecil yg panjang, tak urung aku ketawa geli. Di mataku, mereka itu nggak pantes banget. Selain nggak match dgn warna pakaian & celana, gerak-geriknya juga kikuk. Jangankan mereka, aku saja merasa canggung jika harus menggunakan dasi dan selama mengajar aku tidak pernah pakai dasi.
Kontan saja mahasiswa bertanya mengapa aku ketawa. Langsung saja aku jawab: "Sekarang para mahasiswa harus pakai rantai ya?" sambil menarik dasinya. Kontan saja mereka protes, "Ini dasi, Pak! Bukan rantai! Emang saya doggy?"
Sunday, August 07, 2005
Membangun Rapport dengan Siswa
Membangung Rapport (hubungan/komunikasi yg baik) dengan siswa/mahasiswa sangat penting. Seringkali guru/dosen melupakannya. Sepintar apa pun dosen/guru, kita perlu tetap membangun hubungan baik dengan siswa/mahasiswa. Dan guru/dosen lah yang harus mengambil inisiative untuk menjembatani hubungan ini.
Seorang kolega yang seorang trainer bahasa Inggris yg sukses berkenan membagikan tips-nya. Berikut adalah tips tersebut:
1) Berikan perhatian pada para siswa/mahasiswa.
2) Tunjukkan ketertarikan pada progres mereka.
3) Mintalah komentar di kelas.
4) Memiliki sikap/kelakuan yang baik.
5) Respon dan berikan reaksi pada kata-kata siswa.
Yap itulah terjemahan bebas (atau ngawur?) dari tips yg dibagikannya. Maklumlah, beliau mengirimkannya dalam bahasa Inggris. Dan itulah petunjuk praktis yg sangat penting yg justru sering dilupakan oleh kebanyakan guru/dosen. Ah... Jadi ingat Bu Oglex.
Thanks for Mr Harianto RW for your tips.
Seorang kolega yang seorang trainer bahasa Inggris yg sukses berkenan membagikan tips-nya. Berikut adalah tips tersebut:
1) Berikan perhatian pada para siswa/mahasiswa.
2) Tunjukkan ketertarikan pada progres mereka.
3) Mintalah komentar di kelas.
4) Memiliki sikap/kelakuan yang baik.
5) Respon dan berikan reaksi pada kata-kata siswa.
Yap itulah terjemahan bebas (atau ngawur?) dari tips yg dibagikannya. Maklumlah, beliau mengirimkannya dalam bahasa Inggris. Dan itulah petunjuk praktis yg sangat penting yg justru sering dilupakan oleh kebanyakan guru/dosen. Ah... Jadi ingat Bu Oglex.
Thanks for Mr Harianto RW for your tips.
Saturday, August 06, 2005
TabletPC untuk Server?
TabletPC untuk server? Mengapa tidak? Sistem Operasi yang sudah terinstal adalah MS Windows XP Tablet PC Edition 2005. Kemudian instal XAMPP for Windows. XAMPP sudah mempaketkan Apache, MySQL, PHP, Pearl bahkan untuk Windows ditambahkan FileZillaFTP (FTP Server) dan Mercury (Mail Server).
Test pertama adalah menginstal Sisfo Kampus UNG (SIAT UNG) beserta databasenya. Ternyata berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Berbeda ketika menginstall XAMPP di Ubuntu Linux yang sempat timbul kesulitan, walau pun akhirnya bisa.
Walau pun bisa dijadikan server, tapi saat ini aku belum mengetestnya untuk berjalan di lingkungan production. Pastinya akan terasa berat dan lambat, soalnya dengan AXIOO-ku yang spesifikasinya jauh lebih baik sudah terasa berat dan sempat gagal ketika dicoba sebagai server di UNG untuk melayani kurang lebih 20 client. Mungkin karena pakai IIS ya?
Oke, dalam beberapa hari ini aku akan test-drive Tablet PC-ku. Asyik juga menggunakan pen-nya. Sekarang aku sedang belajar menulis lagi. Maklum, sudah lama tidak pernah menulis dengan tangan, karena sudah terbiasa mengetik. Oh, iya, walau pun keyboard Tablet PC-ku kecil-kecil, tapi malah enak lho. Jariku tidak perlu loncat-loncat menjangkau tombol yang jauh. Nantikan pengalamanku berikutnya dengan TabletPC-ku.
Test pertama adalah menginstal Sisfo Kampus UNG (SIAT UNG) beserta databasenya. Ternyata berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Berbeda ketika menginstall XAMPP di Ubuntu Linux yang sempat timbul kesulitan, walau pun akhirnya bisa.
Walau pun bisa dijadikan server, tapi saat ini aku belum mengetestnya untuk berjalan di lingkungan production. Pastinya akan terasa berat dan lambat, soalnya dengan AXIOO-ku yang spesifikasinya jauh lebih baik sudah terasa berat dan sempat gagal ketika dicoba sebagai server di UNG untuk melayani kurang lebih 20 client. Mungkin karena pakai IIS ya?
Oke, dalam beberapa hari ini aku akan test-drive Tablet PC-ku. Asyik juga menggunakan pen-nya. Sekarang aku sedang belajar menulis lagi. Maklum, sudah lama tidak pernah menulis dengan tangan, karena sudah terbiasa mengetik. Oh, iya, walau pun keyboard Tablet PC-ku kecil-kecil, tapi malah enak lho. Jariku tidak perlu loncat-loncat menjangkau tombol yang jauh. Nantikan pengalamanku berikutnya dengan TabletPC-ku.
Thursday, August 04, 2005
TabletPC-ku
Menyedihkan ketika notebookku bermasalah lagi. Tapi kesedihan itu tidak berlangsung lama ketika akhirnya terbit persetujuan dari perusahaan untuk membeli notebook yang baru. Tidak tanggung-tanggung, aku minta TabletPC yg telah lama kuidam-idamkan. Dan disetujui!
Akhirnya aku ditemani Mbak Lina hunting TabletPC. Tadinya mau ngajak Pak Sofian, tapi dia lagi sibuk ngurus tesis dan beberapa pekerjaan lain. Setelah jalan-jalan, akhirnya diputuskan membeli Acer C113TCi dgn harga USD 1,999. Kecil banget, beratnya cuma 1.4 kg dan layarnya juga mungil, 10 inch.
Saat ini lagi setup banyak software. Nantikan hasil review dari saya ya? Oh, iya, terima kasih Pak Sofian yg telah meng-approve pembelian TabletPC, dan juga kepada Mbak Lina yg telah dengan sabar menemaniku. Tak lupa pada Tuhan Yesus yg telah memberikan banyak sekali berkat, rahmat dan rejeki padaku.
Akhirnya aku ditemani Mbak Lina hunting TabletPC. Tadinya mau ngajak Pak Sofian, tapi dia lagi sibuk ngurus tesis dan beberapa pekerjaan lain. Setelah jalan-jalan, akhirnya diputuskan membeli Acer C113TCi dgn harga USD 1,999. Kecil banget, beratnya cuma 1.4 kg dan layarnya juga mungil, 10 inch.
Saat ini lagi setup banyak software. Nantikan hasil review dari saya ya? Oh, iya, terima kasih Pak Sofian yg telah meng-approve pembelian TabletPC, dan juga kepada Mbak Lina yg telah dengan sabar menemaniku. Tak lupa pada Tuhan Yesus yg telah memberikan banyak sekali berkat, rahmat dan rejeki padaku.
Monday, August 01, 2005
Hasil Ujian Semester
Akhirnya nilai ujian keluar, yaitu A dan B+. Sayang, kurang dikit, seharusnya kalau dapat A untuk kedua mata kuliah tersebut, bisa saja jadi rekor di STIE SUPRA. Soalnya belum ada yg pernah dapat nilai A untuk semua mata kuliah.
Kecewa? Ah... kecewanya sedikit saja. Dan tidak usah berlarut-larut. Menghibur diri nih? Biarin!
Kecewa? Ah... kecewanya sedikit saja. Dan tidak usah berlarut-larut. Menghibur diri nih? Biarin!
Bulan Penuh Kemalangan dan Hikmah
Bulan Juli ini bulan yg penuh berkat sekaligus penuh kemalangan. Betapa tidak? Dalam bulan ini begitu banyak kenangan indah dan penuh rejeki tetapisekaligus banyak kejadian buruk. Dimulai ketika harus berangkat ke Gorontalo. Sebuah peristiwa indah & menyenangkan. Tetapi harus kecewa karena kehilangan uang yg jumlahnya cukup besar. Tapi sudah kurelakan, semoga dapat menjadi berkat dan manfaat bagi yang "menemukannya".
Kemudian sewaktu pulang ke Jakarta (Jumat 29 Juli), pesawat harus delay 2,5 jam. Seharusnya berangkat jam 17.00 WITA, akhirnya baru berangkat jam 19:30 WITA. Sempat emosi sama petugas bandara. Sudah jelas kalau sampai Jakarta kemalaman. Sampai rumah Bekasi jam 00:30 WIB.
Sampai rumah terhenyak melihat plafon rumah ambrol. Barang-barang di bawahnya hancur berantakan. Kata Herman ternyata sudah terjadi 3 hari setelah keberangkatanku ke Gorontalo. Ketahuan di atas plafon banyak batako beton yg ditumpuk begitu saja. Kayaknya kayunya keberatan sehingga ambrol.
Hari Sabtu sewaktu berangkat mengajar di STIE Supra Kelapa Gading, hampir sampai kampus, ban belakang motor bocor. Aih... Kok ya sempat-sempatnya bocor, padahal kampus sudah di depan mata. Syukurlah ada tukang tambal ban cuma beberapa ratus meter saja.
Selang sehari lappie (maksudnya laptop) mendadak ngadat, menampilkan "Blue Screen of Death" khas MS Windows. Ubuntu juga tdk bisa membantu. Akhirnya seharian ngoprek lappie sampai bisa jalan lagi walau pun harus instal ulang sistem.
Kemalangan bertambah ketika Minggu (31 Juli 2005) sore sadar bahwa KeyBCA telah raib dari tempat semula. Kontan aku telpon semua orang yg bisa saja tahu dimana letaknya. Soalnya sehari sebelumnya aku ada di rumah Mbak Dewi, siapa tahu jatuh di rumahnya atau dimainkan Ryan keponakanku. Pokoknya heboh banget. Soalnya KeyBCA ini penting artinya bagiku. Setelah buku rekening hilang dan kartu ATM diblokir, maka satu-satunya akses ya lewat KeyBCA ini. Padahal jumlah uang yg disimpan (bagiku) banyak sekali. Jika ini harus hilang, maka tidak ada cara lain untuk mengakses uang tersebut.
Tetapi sekali lagi Tuhan memberikan pencerahan. Maklum sebelumnya aku sudah 2 minggu tidak ke gereja, jadi mungkin dunia ini menjadi gelap bagiku yg berakibat kemalangan beruntun menimpaku. Berikut adalah hasil/hikmah yg dapat kupetik dari kemalangan2 tsb:
1) Kehilangan uang beberapa juta itu tidak artinya dibanding kesehatan dan keselamatanku di Gorontalo. Dan aku merelakannya dengan anggapan orang yang "menemukan"-nya sangat membutuhkannya dari pada aku. Semoga bermanfaat baginya.
2) Delay pesawat 2.5 jam itu murni karena kendala teknis & operasional. Aku bersyukur karena perjalanan aman, nyaman dan selamat walau harus delay.
3) Plafon rumah yg ambrol. Ini memang sudah agenda untuk diperbaiki, tapi ditunda melulu. Akhirnya ambrol juga. Puji Tuhan karena saat ambrol aku tidak ada di kamar. Seandainya sedang kerja di kamar, tak tahulah apa yg terjadi denganku. Soalnya ambrolnya di atas meja kerjaku. Lagi pula ternyata biaya perbaikannya tidak mahal sekali.
4) Ban bocor itu mah sudah sering terjadi. Jadi kuanggap bukan murni kemalangan.
5) Lappie rusak. Tidak tahu penyebabnya yg spesifik. Mungkin RAM yg karena terguncang2 di pesawat jadinya kendor sehingga merusak file sistem di harddisk. Puji Tuhan yg hancur cuma drive C yg hanya berisi sistem dan aplikasi. Semua data & program penting ada di drive D dan E selamat. Sedangkan 2 partisi lain untuk Ubuntu & swap-nya.
6) KeyBCA ketemu pagi ini (Senin 1 Agustus). Ternyata Herman menyimpannya di bawah meja pendek saat tukang membetulkan plafon. Peristiwa ini akhirnya memaksa aku untuk buka rekening baru. Soalnya ke-2 rekening BCA-ku hilang bukunya. Yang satu hanya berbekal kartu ATM, sedangkan yg satu hanya berbekal KeyBCA (untuk iBanking). Hari ini aku akan buka rekening di Mandiri. Tidak lupa transfer sejumlah uang ke rekening BCA-ku yg ada ATM-nya. Terus ambil uang untuk modal buka rekening di Mandiri.
Ah... rasanya banyak sekali yg bisa diceritakan, tapi tidak cukup kesempatan untuk menuliskannya. Semoga saja mulai tanggal 1 Agustus ini tidak ada kemalangan lagi yg menimpaku. Satu hal yang terpenting dari itu semua adalah bahwa itu semua adalah murni kebaikan Tuhan. Di balik semua kemalangan (dan cobaan), selalu ada hikmah dari Tuhan. Kuk yg dipasangkan ke pundak kita tidak melebihi kekuatan kita. Dan kuk tersebut adalah enak (saat kita mengetahui hikmah di baliknya). Terima kasih Tuhan. Terima kasih Papa, Ibu, kakak2ku, adikku, istriku, anakku, sahabat-sahabatku terkasih yang selalu mendoakan aku. Tanpa mereka yang selalu mendukungku, entahlah apa jadinya aku sekarang.
Kemudian sewaktu pulang ke Jakarta (Jumat 29 Juli), pesawat harus delay 2,5 jam. Seharusnya berangkat jam 17.00 WITA, akhirnya baru berangkat jam 19:30 WITA. Sempat emosi sama petugas bandara. Sudah jelas kalau sampai Jakarta kemalaman. Sampai rumah Bekasi jam 00:30 WIB.
Sampai rumah terhenyak melihat plafon rumah ambrol. Barang-barang di bawahnya hancur berantakan. Kata Herman ternyata sudah terjadi 3 hari setelah keberangkatanku ke Gorontalo. Ketahuan di atas plafon banyak batako beton yg ditumpuk begitu saja. Kayaknya kayunya keberatan sehingga ambrol.
Hari Sabtu sewaktu berangkat mengajar di STIE Supra Kelapa Gading, hampir sampai kampus, ban belakang motor bocor. Aih... Kok ya sempat-sempatnya bocor, padahal kampus sudah di depan mata. Syukurlah ada tukang tambal ban cuma beberapa ratus meter saja.
Selang sehari lappie (maksudnya laptop) mendadak ngadat, menampilkan "Blue Screen of Death" khas MS Windows. Ubuntu juga tdk bisa membantu. Akhirnya seharian ngoprek lappie sampai bisa jalan lagi walau pun harus instal ulang sistem.
Kemalangan bertambah ketika Minggu (31 Juli 2005) sore sadar bahwa KeyBCA telah raib dari tempat semula. Kontan aku telpon semua orang yg bisa saja tahu dimana letaknya. Soalnya sehari sebelumnya aku ada di rumah Mbak Dewi, siapa tahu jatuh di rumahnya atau dimainkan Ryan keponakanku. Pokoknya heboh banget. Soalnya KeyBCA ini penting artinya bagiku. Setelah buku rekening hilang dan kartu ATM diblokir, maka satu-satunya akses ya lewat KeyBCA ini. Padahal jumlah uang yg disimpan (bagiku) banyak sekali. Jika ini harus hilang, maka tidak ada cara lain untuk mengakses uang tersebut.
Tetapi sekali lagi Tuhan memberikan pencerahan. Maklum sebelumnya aku sudah 2 minggu tidak ke gereja, jadi mungkin dunia ini menjadi gelap bagiku yg berakibat kemalangan beruntun menimpaku. Berikut adalah hasil/hikmah yg dapat kupetik dari kemalangan2 tsb:
1) Kehilangan uang beberapa juta itu tidak artinya dibanding kesehatan dan keselamatanku di Gorontalo. Dan aku merelakannya dengan anggapan orang yang "menemukan"-nya sangat membutuhkannya dari pada aku. Semoga bermanfaat baginya.
2) Delay pesawat 2.5 jam itu murni karena kendala teknis & operasional. Aku bersyukur karena perjalanan aman, nyaman dan selamat walau harus delay.
3) Plafon rumah yg ambrol. Ini memang sudah agenda untuk diperbaiki, tapi ditunda melulu. Akhirnya ambrol juga. Puji Tuhan karena saat ambrol aku tidak ada di kamar. Seandainya sedang kerja di kamar, tak tahulah apa yg terjadi denganku. Soalnya ambrolnya di atas meja kerjaku. Lagi pula ternyata biaya perbaikannya tidak mahal sekali.
4) Ban bocor itu mah sudah sering terjadi. Jadi kuanggap bukan murni kemalangan.
5) Lappie rusak. Tidak tahu penyebabnya yg spesifik. Mungkin RAM yg karena terguncang2 di pesawat jadinya kendor sehingga merusak file sistem di harddisk. Puji Tuhan yg hancur cuma drive C yg hanya berisi sistem dan aplikasi. Semua data & program penting ada di drive D dan E selamat. Sedangkan 2 partisi lain untuk Ubuntu & swap-nya.
6) KeyBCA ketemu pagi ini (Senin 1 Agustus). Ternyata Herman menyimpannya di bawah meja pendek saat tukang membetulkan plafon. Peristiwa ini akhirnya memaksa aku untuk buka rekening baru. Soalnya ke-2 rekening BCA-ku hilang bukunya. Yang satu hanya berbekal kartu ATM, sedangkan yg satu hanya berbekal KeyBCA (untuk iBanking). Hari ini aku akan buka rekening di Mandiri. Tidak lupa transfer sejumlah uang ke rekening BCA-ku yg ada ATM-nya. Terus ambil uang untuk modal buka rekening di Mandiri.
Ah... rasanya banyak sekali yg bisa diceritakan, tapi tidak cukup kesempatan untuk menuliskannya. Semoga saja mulai tanggal 1 Agustus ini tidak ada kemalangan lagi yg menimpaku. Satu hal yang terpenting dari itu semua adalah bahwa itu semua adalah murni kebaikan Tuhan. Di balik semua kemalangan (dan cobaan), selalu ada hikmah dari Tuhan. Kuk yg dipasangkan ke pundak kita tidak melebihi kekuatan kita. Dan kuk tersebut adalah enak (saat kita mengetahui hikmah di baliknya). Terima kasih Tuhan. Terima kasih Papa, Ibu, kakak2ku, adikku, istriku, anakku, sahabat-sahabatku terkasih yang selalu mendoakan aku. Tanpa mereka yang selalu mendukungku, entahlah apa jadinya aku sekarang.
Monday, July 25, 2005
Gorontalo = Mangkuk Bumi?
Minggu 25 Juli, kami ber-7 piknik ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Nama ini mengabadikan 2 orang pahlawan Sulawesi. Ada pemandian air panasnya. Yg jelas indah sekali. Saat itu kebetulan ada check sound untuk Festival Band malamnya. Satu yg perlu dicatat adalah bahwa remaja putri dan ibu-ibu di sini berenang dengan baju lengkap. Tadinya aku pikir ini ibu-ibu kecebur, ternyata setelah melihat ibu-ibu yang lain yg juga berenang pakai baju lengkap, akhirnya aku sadar bahwa memang begitulah trend-nya di sini.
Sehabis itu mampir makan di rumah makan lesehan Nunu dan aku pilih makan Coto Makassar saja. Setelah itu perjalanan dilanjut ke Benteng Otanaha lewat jalur mobil, tidak jalan kaki, maklum tinggi sekali, konon ada 300 anak tangga. Aku sih ogah ngitunginnya. Cape.
Dari sini tersadar bahwa Gorontalo itu seperti sebuah mangkuk bumi raksasa, dan Gorontalo ada di tengahnya. Satu-satunya jalan akses darat adalah di belahan mangkuk tersebut. Mungkinkah dahulu Gorontalo sebuah mangkok raksasa? Karena terbelah itulah akhirnya airnya keluar dan hanya tersisa sedikit? Kini danau ini pun sudah mengalami pendangkalan dan pinggirannya sudah banyak ditinggali penduduk.
Ah, betapa misteriusnya Tuhan itu, kita tidak dapat menalarnya dengan pikiran kita. Itu semua hanya perlu: "iman" untuk memahaminya.
Sehabis itu mampir makan di rumah makan lesehan Nunu dan aku pilih makan Coto Makassar saja. Setelah itu perjalanan dilanjut ke Benteng Otanaha lewat jalur mobil, tidak jalan kaki, maklum tinggi sekali, konon ada 300 anak tangga. Aku sih ogah ngitunginnya. Cape.
Dari sini tersadar bahwa Gorontalo itu seperti sebuah mangkuk bumi raksasa, dan Gorontalo ada di tengahnya. Satu-satunya jalan akses darat adalah di belahan mangkuk tersebut. Mungkinkah dahulu Gorontalo sebuah mangkok raksasa? Karena terbelah itulah akhirnya airnya keluar dan hanya tersisa sedikit? Kini danau ini pun sudah mengalami pendangkalan dan pinggirannya sudah banyak ditinggali penduduk.
Ah, betapa misteriusnya Tuhan itu, kita tidak dapat menalarnya dengan pikiran kita. Itu semua hanya perlu: "iman" untuk memahaminya.
Saturday, July 23, 2005
Hari ke-7 di Gorontalo
Wah... ternyata sudah seminggu di Gorontalo.
Sedikit berkilas balik. Berangkat Minggu 17 Juli 2005 jam 5:30. Betapa beratnya karena hari Sabtu sebelumnya aku harus ujian 2 mata kuliah yang dilanjut meeting tesis. Kemudian sorenya harus mengajar di Kelapa Gading 2 sesi untuk menggantikan sesi minggu depannya karena aku tidak bisa mengajar. Terima kasih Mbak Lina yang telah berbaik hati mengantarkan aku dan Neti sampai Kelapa Gading.
Sabtu malam sehabis ngajar langsung ke bandara. Di sana sudah ada Untung di Quality Hotel Bandara. Dia memang kutugaskan reservasi jauh hari dan in duluan. Pagi-pagi jam 4 harus sudah bangun. Sarapan jam 4:30, dan jam 5:00 harus boarding pass.
Mungkin agak ndesit (ndeso orang Jawa bilang) kalau aku berterus terang bahwa ini adalah penerbanganku yang pertama. Sudah gerang begini baru menikmati naik pesawat? Biarin aja!!! Tapi tidak ada rasa apa-apa. Artinya tidak ada rasa takut, mabok atau yg negatif-negatif lain. Maklum, masalah jalan-jalan sudah sering. Jadi rasanya biasa saja.
Sempat transit di Makassar 20 menit. Sepanjang perjalanan melihat pemandangan Indonesia bagian tengah (agak ke Utara tepatnya). Betapa hijau pemandangan Indonesia. Tidak salah jika Indonesia disebut sebagai Zambrud Katulistiwa. Walau pun mungkin kini kilau Zambrudnya sudah tidak sekemilau dahulu.
Akhirnya sampai juga di Gorontalo dan disambut sendiri oleh Bapak Hasanuddin selaku Kepala Hubungan & Kerja Sama. Dalam perjalanan ke Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kami melihat betapa asrinya Gorontalo. Dan dari cerita Pak Hasan, setelah menjadi propinsi, Gorontalo sangat pesat perkembangannya. Termasuk UNG yang tadinya berupa IKIP dan sekarang menjadi Universitas.
Dikenalkan juga dengan bentor (becak motor atau bendi motor). Ini adalah transportasi khas Gorontalo. Dan sekarang populasinya meningkat tajam. Jadi ingat becak saat masih hidup di Tegal dulu.
Dan kini setelah 7 hari di Gorontalo, rasanya betah. Udaranya hangat dan sejuk. Polusinya sedikit sekali. Yang penting adalah aman dan nyaman. Sepi sekali. Makanannya juga enak. Aku sudah coba Milu Siram dan Ilabulo. Sedap sekali. Sayang aku tdk hobi makan ikan, padahal di sini terkenal dengan masakan ikannya.
Oh, iya, aku menginap di Hotel Jambura Inn, sebuah laboratorium pariwisata UNG yang baru saja dibuat hasil rehab dari asrama putri. Tempatnya bersih dan nyaman, sayangnya tidak ada air panas untuk mandi.
Tidak lupa menyebutkan bahwa orang Gorontalo baik dan ramah. Kemarin (Jumat 22 Juli 2005) aku harus pindah ke rumah Pak Haris (Kepala Pengumpulan Data) yg baru. Perpindahan ini cuma sementara karena Jambura Inn sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi Senin nanti balik ke Jambura lagi yang berlokasi di dalam kompleks UNG.
Tambahan: tanggal 22, 23 dan 24 ada acara STQ di Gorontalo. Dan SBY hadir membuka acara STQ ini. Sayang tidak sempat lihat pawai kafilahnya. Kayaknya sih ramai sekali.
Sedikit berkilas balik. Berangkat Minggu 17 Juli 2005 jam 5:30. Betapa beratnya karena hari Sabtu sebelumnya aku harus ujian 2 mata kuliah yang dilanjut meeting tesis. Kemudian sorenya harus mengajar di Kelapa Gading 2 sesi untuk menggantikan sesi minggu depannya karena aku tidak bisa mengajar. Terima kasih Mbak Lina yang telah berbaik hati mengantarkan aku dan Neti sampai Kelapa Gading.
Sabtu malam sehabis ngajar langsung ke bandara. Di sana sudah ada Untung di Quality Hotel Bandara. Dia memang kutugaskan reservasi jauh hari dan in duluan. Pagi-pagi jam 4 harus sudah bangun. Sarapan jam 4:30, dan jam 5:00 harus boarding pass.
Mungkin agak ndesit (ndeso orang Jawa bilang) kalau aku berterus terang bahwa ini adalah penerbanganku yang pertama. Sudah gerang begini baru menikmati naik pesawat? Biarin aja!!! Tapi tidak ada rasa apa-apa. Artinya tidak ada rasa takut, mabok atau yg negatif-negatif lain. Maklum, masalah jalan-jalan sudah sering. Jadi rasanya biasa saja.
Sempat transit di Makassar 20 menit. Sepanjang perjalanan melihat pemandangan Indonesia bagian tengah (agak ke Utara tepatnya). Betapa hijau pemandangan Indonesia. Tidak salah jika Indonesia disebut sebagai Zambrud Katulistiwa. Walau pun mungkin kini kilau Zambrudnya sudah tidak sekemilau dahulu.
Akhirnya sampai juga di Gorontalo dan disambut sendiri oleh Bapak Hasanuddin selaku Kepala Hubungan & Kerja Sama. Dalam perjalanan ke Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kami melihat betapa asrinya Gorontalo. Dan dari cerita Pak Hasan, setelah menjadi propinsi, Gorontalo sangat pesat perkembangannya. Termasuk UNG yang tadinya berupa IKIP dan sekarang menjadi Universitas.
Dikenalkan juga dengan bentor (becak motor atau bendi motor). Ini adalah transportasi khas Gorontalo. Dan sekarang populasinya meningkat tajam. Jadi ingat becak saat masih hidup di Tegal dulu.
Dan kini setelah 7 hari di Gorontalo, rasanya betah. Udaranya hangat dan sejuk. Polusinya sedikit sekali. Yang penting adalah aman dan nyaman. Sepi sekali. Makanannya juga enak. Aku sudah coba Milu Siram dan Ilabulo. Sedap sekali. Sayang aku tdk hobi makan ikan, padahal di sini terkenal dengan masakan ikannya.
Oh, iya, aku menginap di Hotel Jambura Inn, sebuah laboratorium pariwisata UNG yang baru saja dibuat hasil rehab dari asrama putri. Tempatnya bersih dan nyaman, sayangnya tidak ada air panas untuk mandi.
Tidak lupa menyebutkan bahwa orang Gorontalo baik dan ramah. Kemarin (Jumat 22 Juli 2005) aku harus pindah ke rumah Pak Haris (Kepala Pengumpulan Data) yg baru. Perpindahan ini cuma sementara karena Jambura Inn sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi Senin nanti balik ke Jambura lagi yang berlokasi di dalam kompleks UNG.
Tambahan: tanggal 22, 23 dan 24 ada acara STQ di Gorontalo. Dan SBY hadir membuka acara STQ ini. Sayang tidak sempat lihat pawai kafilahnya. Kayaknya sih ramai sekali.
Wednesday, July 13, 2005
OSS di Indonesia
Melihat gelora OSS di Indonesia terutama ketika acara Open House OSS IGOS, ada beberapa catatan yg perlu saya utarakan, yaitu:
1) Kita masih dalam tataran pengguna. Masih banyak yg mencari & mencoba software2 OSS dgn harapan bisa menggantikan software proprietary yg mereka gunakan.
2) Masih banyak yg sekedar menurunkan. Banyak yg berupaya membuat distro sendiri walau pun mungkin hanya mengganti nama/judul distro saja. Mereka seperti terjebak, mereka menganggap diri mereka grass root OSS stlh berhasil menurunkan distro Linux.
3> OSS tidak hanya sekedar Linux. Banyak yg terjebak mengkampanyekan OSS sebagai kampanye penggunaan OS Linux. Padahal OSS tdk sekedar Linux. Bahkan sekarang banyak OSS yg mendukung MS Windows, misalnya MySQL, PHP, Apache, dll, mereka sekarang bisa jalan di MS Windows.
4) Menggunakan OSS untuk kepentingan diri sendiri/organisasi. Ini banyak sekali terjadi. Banyak pihak yg membuat/mengembangkan software berbasiskan OSS tetapi software hasil cipta mereka menjadi software proprietary. Betapa kejamnya dunia ini.
Itulah kesimpulan saya tentang OSS di Indonesia. Masih banyak yg rancu, msh banyak yg harus diluruskan dan dibenahi. Itulah mungkin tugas IGOS. Sayang IGOS sering tidak konsisten & kurang mendapat dukungan dari pemerintah sendiri. Lucu ya OSS di Indonesia.
1) Kita masih dalam tataran pengguna. Masih banyak yg mencari & mencoba software2 OSS dgn harapan bisa menggantikan software proprietary yg mereka gunakan.
2) Masih banyak yg sekedar menurunkan. Banyak yg berupaya membuat distro sendiri walau pun mungkin hanya mengganti nama/judul distro saja. Mereka seperti terjebak, mereka menganggap diri mereka grass root OSS stlh berhasil menurunkan distro Linux.
3> OSS tidak hanya sekedar Linux. Banyak yg terjebak mengkampanyekan OSS sebagai kampanye penggunaan OS Linux. Padahal OSS tdk sekedar Linux. Bahkan sekarang banyak OSS yg mendukung MS Windows, misalnya MySQL, PHP, Apache, dll, mereka sekarang bisa jalan di MS Windows.
4) Menggunakan OSS untuk kepentingan diri sendiri/organisasi. Ini banyak sekali terjadi. Banyak pihak yg membuat/mengembangkan software berbasiskan OSS tetapi software hasil cipta mereka menjadi software proprietary. Betapa kejamnya dunia ini.
Itulah kesimpulan saya tentang OSS di Indonesia. Masih banyak yg rancu, msh banyak yg harus diluruskan dan dibenahi. Itulah mungkin tugas IGOS. Sayang IGOS sering tidak konsisten & kurang mendapat dukungan dari pemerintah sendiri. Lucu ya OSS di Indonesia.
Open House OSS IGOS
Tgl 12 Juli kemarin kami dari Tim Sisfo Kampus (Saya, Sofian, dan Siska) turut meramaikan acara open house OSS IGOS. Kami turut serta dalam acara "Temu Bisnis". Sayangnya banyak peserta presentasi yg tidak dapat membawakan materi dengan baik. Banyak pula yg malah ngomong teori. Yang tadinya pemirsanya banyak, lambat laun jadi sedikit. Pembicara yg agak lumayan adalah dari dosen UAD (Universitas Ahmad Dahlan), sayang saya lupa namanya.
Dari banyak pembicara, saya rasa hanya kami yang membawa produk secara live. Kami bisa mendemokan program secara langsung. Jadi tidak sekedar ngomong doang. Sedangkan pembicara lain paling banter hanya memperlihatkan screen shoot. Dari sekian banyak pembicara hanya memperkenalkan produk, atau bahkan sekedar teori saja. Padahal saya yakin, banyak pemirsa yg ingin melihat dampak ekonomis mau pun teknis dari OSS. Sewaktu presentasi saya bicara kalau OSS sebenarnya juga bisa mendatangkan pendapatan, buktinya saya bisa hidup dan tersenyum sampai saat ini.
Ah... Sangat sayang, hampir sebagian besar dari mereka hanya "memanfaatkan" OSS, tapi tidak "menciptakan" OSS. Okelah RS Pertamina bisa saja membuat program memanfaatkan OSS, tapi saya yakin mereka tidak akan meng-OSS-kan software mereka. Lucu ya? Lucu lagi sewaktu lomba software OSS tempo hari, ada seorang peserta lomba yg terang-terangan tidak akan membuka source-codenya, padahal event-nya adalah lomba OSS.
Ada 1 hal yg sangat saya sayangkan dalam gelaran ini, yaitu banyak peserta (baik peserta pameran mau pun temu bisnis) yg ternyata hanya berkedok OSS. Saya banyak tahu latar belakang mereka yg bukan OSS. Dan akhirnya mereka pun mengaku pada saya kalau software yg mereka pamerkan yg mereka aku sebagai OSS ternyata tidak OSS. Kalau pun bisa didownload, ternyata sangat banyak fitur yg dikurangi. Jika ingin full-function, maka kita harus beli versi proprietary-nya.
Tidak lupa ada stand Microsoft yg jelas-jelas bermusuhan dengan OSS (tepatnya saling bermusuhan). Memang sih MS pernah mengeluarkan OSS, tapi rasanya cuma basa-basi untuk tetap merangkul basis developer & user yg telah hengkang ke OSS.
Terima kasih pada Mbak Lina dan teman-teman dari Sindoro yg menyempatkan diri datang ke pameran. Sayang Mbak Lina dkk tdk sempat melihat presentasi kami. Oh, iya, dari kupon kalian, ada 3 yg dpt door prize, hadiahnya: USB Flash Disk Nexus 128MB, 1 boneka pinguin besar dan boneka pinguin kecil.
Dari banyak pembicara, saya rasa hanya kami yang membawa produk secara live. Kami bisa mendemokan program secara langsung. Jadi tidak sekedar ngomong doang. Sedangkan pembicara lain paling banter hanya memperlihatkan screen shoot. Dari sekian banyak pembicara hanya memperkenalkan produk, atau bahkan sekedar teori saja. Padahal saya yakin, banyak pemirsa yg ingin melihat dampak ekonomis mau pun teknis dari OSS. Sewaktu presentasi saya bicara kalau OSS sebenarnya juga bisa mendatangkan pendapatan, buktinya saya bisa hidup dan tersenyum sampai saat ini.
Ah... Sangat sayang, hampir sebagian besar dari mereka hanya "memanfaatkan" OSS, tapi tidak "menciptakan" OSS. Okelah RS Pertamina bisa saja membuat program memanfaatkan OSS, tapi saya yakin mereka tidak akan meng-OSS-kan software mereka. Lucu ya? Lucu lagi sewaktu lomba software OSS tempo hari, ada seorang peserta lomba yg terang-terangan tidak akan membuka source-codenya, padahal event-nya adalah lomba OSS.
Ada 1 hal yg sangat saya sayangkan dalam gelaran ini, yaitu banyak peserta (baik peserta pameran mau pun temu bisnis) yg ternyata hanya berkedok OSS. Saya banyak tahu latar belakang mereka yg bukan OSS. Dan akhirnya mereka pun mengaku pada saya kalau software yg mereka pamerkan yg mereka aku sebagai OSS ternyata tidak OSS. Kalau pun bisa didownload, ternyata sangat banyak fitur yg dikurangi. Jika ingin full-function, maka kita harus beli versi proprietary-nya.
Tidak lupa ada stand Microsoft yg jelas-jelas bermusuhan dengan OSS (tepatnya saling bermusuhan). Memang sih MS pernah mengeluarkan OSS, tapi rasanya cuma basa-basi untuk tetap merangkul basis developer & user yg telah hengkang ke OSS.
Terima kasih pada Mbak Lina dan teman-teman dari Sindoro yg menyempatkan diri datang ke pameran. Sayang Mbak Lina dkk tdk sempat melihat presentasi kami. Oh, iya, dari kupon kalian, ada 3 yg dpt door prize, hadiahnya: USB Flash Disk Nexus 128MB, 1 boneka pinguin besar dan boneka pinguin kecil.
Saturday, July 09, 2005
Ubuntu + XAMPP + Sisfo Kampus = COOL OSS
CD Ubuntu sudah punya dan XAMPP sudah didownload. Keduanya sudah lama di tangan. Tapi niat & semangat baru timbul sekarang. Akhirnya dengan semangat 45 ngoprek XAMPP di Ubuntu. Satu jam ngoprek hanya untuk menjalankan XAMPP. Kok lama? Iya, karena MySQL, XAMPP (welcome page+tools), phpMyAdmin tidak bisa jalan. Kenapakah gerangan? Pemecahannya mudah, yaitu: chown nobody:root ke beberapa direktori pendukung. Baru deh semua jalan: Apache, MySQL, dan PHP serta tools-nya yang lain. Semuanya versi terbaru lho!
Apa yg memotivasi saya? Ada 2, yaitu: Persiapan diskusi/temu OSS di acara IGOS pada hari Rabu 13 Juli nanti dan juga datangnya 10 set CD Ubuntu. Kombinasi yg membuat adrenalin naik.
Ngomong-ngomong persiapan utk OSS IGOS apa sih? Ya itu, install Sisfo Kampus di Ubuntu. Kalo di distro Mandrake & RedHat sih sudah biasa, tapi kini di Ubuntu yang dikenal sebagai distronya desktop dan laptop. Terima kasih bantuan dari XAMPP.
Yang jelas, nggak lucu jika nanti pada acara OSS IGOS kita pake distro-nya Microsoft. Eh... kok distro... Maksudnya sistem operasi dari Microsoft. Kalau bisa semua yg ditampilkan OSS juga, termasuk Ubuntu, XAMPP, OpenOffice, dan tentu saja Sisfo Kampus, my first and ever OSS.
Apa yg memotivasi saya? Ada 2, yaitu: Persiapan diskusi/temu OSS di acara IGOS pada hari Rabu 13 Juli nanti dan juga datangnya 10 set CD Ubuntu. Kombinasi yg membuat adrenalin naik.
Ngomong-ngomong persiapan utk OSS IGOS apa sih? Ya itu, install Sisfo Kampus di Ubuntu. Kalo di distro Mandrake & RedHat sih sudah biasa, tapi kini di Ubuntu yang dikenal sebagai distronya desktop dan laptop. Terima kasih bantuan dari XAMPP.
Yang jelas, nggak lucu jika nanti pada acara OSS IGOS kita pake distro-nya Microsoft. Eh... kok distro... Maksudnya sistem operasi dari Microsoft. Kalau bisa semua yg ditampilkan OSS juga, termasuk Ubuntu, XAMPP, OpenOffice, dan tentu saja Sisfo Kampus, my first and ever OSS.
Ubuntuku
Tiga bulan yang lalu saya memesan CD Ubuntu di www.ubuntu.com dan hari ini ketika pulang dari mengajar saya merasakan surprise karena CD yang saya pesan datang. Asyiknya hanya perlu menambah BEA LALU BEA sejumlah Rp 3rb saja. Dari sharing dgn teman-teman malah ada yg harus membayar biaya pengiriman sampai ratusan ribu (keluhan ini bisa dicari di www.benpinter.net).
Sebenarnya sih sudah copy dari teman karena tidak sabar mencoba distro nomer 1 di distrowatch. Tapi saya surprise karena selain gratis, mereka tdk tanggung-tanggung dalam soal jumlah. Sewaktu saya meminta 5 CD, mereka menawarkan 10 CD sekalian, dengan alasan ongkos kirim akan lebih mahal dari biaya produksi. Ya sudah, saya minta 10 sekalian untuk platform x86. Dan memang saya menerima 10. Tapi setiap sampul berisi 2, yaitu install CD dan live CD. Betapa murah hatinya mereka. Sudah gratis dikirim pula. Tidak ada pesan-pesan sponsor berlebihan, cuma tulisan dibelakang: Ubuntu is sponsored by Canonical Ltd.
Review tentang Linux-ku ada di: Linux-ku Tersayang. Sekalian mau koreksi kalau Mandrake yg pertama kucoba adalah versi 7.2.
Betapa hebatnya dunia open source. Bravo OSS. Oh, iya, saya juga telah melakukan hal yang sama dengan Sisfo Kampus, tetapi dalam jumlah yang terbatas, karena pembiayaan murni dari kocek pribadi. Jadi maklum ya?
Sebenarnya sih sudah copy dari teman karena tidak sabar mencoba distro nomer 1 di distrowatch. Tapi saya surprise karena selain gratis, mereka tdk tanggung-tanggung dalam soal jumlah. Sewaktu saya meminta 5 CD, mereka menawarkan 10 CD sekalian, dengan alasan ongkos kirim akan lebih mahal dari biaya produksi. Ya sudah, saya minta 10 sekalian untuk platform x86. Dan memang saya menerima 10. Tapi setiap sampul berisi 2, yaitu install CD dan live CD. Betapa murah hatinya mereka. Sudah gratis dikirim pula. Tidak ada pesan-pesan sponsor berlebihan, cuma tulisan dibelakang: Ubuntu is sponsored by Canonical Ltd.
Review tentang Linux-ku ada di: Linux-ku Tersayang. Sekalian mau koreksi kalau Mandrake yg pertama kucoba adalah versi 7.2.
Betapa hebatnya dunia open source. Bravo OSS. Oh, iya, saya juga telah melakukan hal yang sama dengan Sisfo Kampus, tetapi dalam jumlah yang terbatas, karena pembiayaan murni dari kocek pribadi. Jadi maklum ya?
Liburan di Semarang
Liburan di Semarang di tengah banyak deadline. Presentasi progress proyek KIA Senin 4 Juli. Banyak sekali kekurangan program di sana-sini, tetapi tertolong oleh ketidaksiapan h/w dari KIA sehingga program blm jadi diinstal minggu ini. Puji Tuhan, akhirnya bisa pulang ke Semarang malamnya naik travel. Pegel banget ketika dijemput travel jam 23 malem, padahal nunggunya sudah sejak jam 20. Tapi sekali lagi Puji Tuhan karena perjalanan lancar dan sampai Semarang tgl 5 jam 10 pagi.
Bertemu Sisi & Axel kembali setelah 2 bulan lebih tidak bertemu. Seperti biasa kami mengisi waktu dengan kota-kota. Tapi yg namanya liburannya orang wirausaha, masih saja diganggu telpon & imel dari banyak relasi. Sebenarnya tidak terganggu sih, soalnya pekerjaan sudah menjadi hobby, dan tidak lagi menjadi beban. Syukurlah semua bisa ditangani.
Jumat tgl 8 kembali ke Bekasi lagi naik KA Kamandanu. Sampai rumah jam 4 pagi. Sekarang sudah mulai bekerja kembali, nanti sore ngajar di Supra Kelapa Gading. Wuih... padatnya hidupku.
Salam buat Sisi & Axel di Semarang.
Bertemu Sisi & Axel kembali setelah 2 bulan lebih tidak bertemu. Seperti biasa kami mengisi waktu dengan kota-kota. Tapi yg namanya liburannya orang wirausaha, masih saja diganggu telpon & imel dari banyak relasi. Sebenarnya tidak terganggu sih, soalnya pekerjaan sudah menjadi hobby, dan tidak lagi menjadi beban. Syukurlah semua bisa ditangani.
Jumat tgl 8 kembali ke Bekasi lagi naik KA Kamandanu. Sampai rumah jam 4 pagi. Sekarang sudah mulai bekerja kembali, nanti sore ngajar di Supra Kelapa Gading. Wuih... padatnya hidupku.
Salam buat Sisi & Axel di Semarang.
Subscribe to:
Posts (Atom)